TERTAKAR & TAK AKAN TERTUKAR

Allah Azza wa Jalla telah menakar dan menetapkan kadar rezeki kita, sehingga tidak mungkin akan tertukar. Agar tidak menimbulkan rasa iri dan dengki maka sering-seringlah melihat kondisi mereka yang berada di bawah kita. Di dunia ini kita pasti akan menemukan banyak orang yang memiliki kondisi ekonomi di bawah kita. Jika kita ditakdirkan ditimpa musibah, pasti di sana ada mereka yang diuji dengan musibah yang lebih dahsyat daripada kita. Jika kita ditakdirkan menjadi orang yang fakir, pasti di sana ada orang yang lebih fakir. Oleh karenanya, mengapa kita menengadahkan kepala, melihat kondisi orang yang diberi kelebihan rezeki tanpa melihat mereka yang berada di bawah?


Jika kita sering memperhatikan orang yang diberi kelebihan harta dan kedudukan, sementara dia mungkin tidak memiliki skill, kecerdasan, dan perilaku seperti kita, mengapa diri kita tidak mengingat bahwa di sana betapa banyak orang yang memiliki keunggulan serupa dengan kita atau bahkan lebih, namun dirinya tidak ditakdirkan untuk memperoleh setengah dari rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan,

إذا رأى أحدكم مَنْ فوقه في المال والحسب فلينظر إلى من هو دونه في المال والحسب

“Jika engkau melihat seorang yang memiliki harta dan kedudukan yang melebihimu, maka lihatlah orang yang berada di bawahmu.”

(HR. Ibnu Hibban)

Beliau juga mengatakan,

انظروا إلى من أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم؛ فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله

“Perhatikanlah mereka yang kondisi ekonominya berada di bawahmu dan janganlah engkau perhatikan mereka yang kondisi ekonominya berada di atasmu. Niscaya hal itu akan membuat dirimu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Sebagian ulama pernah mengatakan bahwa kisah kehidupan salaf adalah sebagian dari bala tentara Allah Azza wa Jalla, dengannya Allah meneguhkan hati para kekasih-Nya. Betapa banyak hati yang mengalami perbaikan, memperoleh tambahan semangat untuk beribadah setelah pemiliknya membaca perikehidupan para salaf. Begitu pula untuk meraih sifat qana’ah, kita dapat membaca bagaimana sikap mereka terhadap dunia, kezuhudan serta keridlaan mereka dengan kondisi ekonomi yang sulit. Meskipun dunia telah dibentangkan di hadapan mereka, namun mereka menolak karena lebih mendahulukan balasan yang abadi ketimbang balasan yang disegerakan di dunia, nrimo ing pandum dengan yang sedikit demi memperoleh balasan yang banyak. Semua hal itu akan menjadikan kita untuk lebih mendambakan kehidupan akhirat dan menganggap kecil segala bentuk perhiasan dunia yang fana. Contoh yang baik dalam hal ini adalah kisah tatkala ‘Umar bin al-Khaththab mengunjungi rumah ‘Ubaidah ‘Aamir bin al-Jarraah. ‘Umar menangis ketika memasuki rumah ‘Ubaidah. Beliau menangis dikarenakan di rumah ‘Ubaidah hanya terdapat pedang, perisai dan tas yang sering digunakan beliau. Padahal ‘Ubaidah adalah seorang komandan pasukan, seorang yang digelari amiinu hadzihi al-ummah, orang yang paling amanah di umat ini. Ketika ‘Umar bertanya mengapa dia tidak membeli perabot untuk menghias rumah seperti yang dilakukan orang lain, ‘Ubaidah hanya menjawab bahwa apa yang dia miliki sekarang, itulah yang akan mampu menghantarkannya kepada surga, tempat peristirahatan kelak. Semoga Allah Azza wa Jalla meridhai mereka berdua…


Kita harus memahami bahwa harta dapat membawa dampak buruk jika tidak diperoleh dan dipergunakan dengan cara yang baik sesuai syariat. Problem bagi pemilik harta adalah proses audit yang akan diterapkan dari dua sisi, yaitu bagaimana harta itu diperoleh dan ke mana harta itu dipergunakan, kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam mencari dan membelanjakan hartanya…

Selain itu, kita dapat membayangkan bahwa seorang dengan harta yang minim akan mengalami proses hisab di akhirat yang lebih ringan dan cepat daripada mereka yang memiliki harta yang berlimpah banyak. Hal ini dapat dianalogikan dengan seorang yang berpergian menggunakan pesawat dan membawa barang yang banyak. Jika telah sampai di tujuan, dirinya akan melalui proses investigasi yang lama di bandara, berkebalikan dengan seorang yang berpergian tanpa membawa barang yang banyak. Ingatlah saudaraku, hisab yang akan kita hadapi di hari akhirat kelak lebih sulit, lebih teliti, lebih ketat dan lebih lama prosesnya…

Lihat pula mereka yang harta dan kedudukannya menjadi sebab kesengsaraan, kegelisahan, kecemasan atau bahkan sebab yang membuat dirinya sakit. Berpeluh dalam mengumpulkan harta dan meraih kedudukan, kemudian menyewa jasa pengamanan untuk menjaganya. Lihatlah apa yang dialami oleh mereka ketika musibah menimpa harta dan kedudukannya…


Kita harus memahami bahwa antara yang kaya dan yang miskin hanya terjadi perbedaan yang sangat tipis. Seorang yang ditakdirkan Allah Azza wa Jalla dalam keadaan kaya hanya mampu memanfaatkan sebagian kecil dari hartanya, yaitu sekedar memenuhi apa yang menjadi kebutuhan. Adapun kelebihan dari harta yang dia miliki, pada akhirnya tidak mampu dia manfaatkan seluruhnya meski itu adalah miliknya. Contohnya, jika kita melihat manusia terkaya di dunia ini, kita akan melihat bahwa dia tidak mungkin mampu menyantap makanan dengan kuantitas melebihi apa yang dibutuhkan oleh orang yang lebih miskin, bahkan terkadang yang miskin lebih banyak makannya ketimbang dirinya. Lebih ekstrim lagi, apakah seorang yang kaya mampu untuk menghabiskan seratus hidangan yang telah dibeli dengan seketika? Apakah dia mampu tinggal dalam satu waktu di seratus rumah yang telah dia beli? Atau mengendarai seratus mobil dan motor yang dia miliki dalam satu kali kesempatan? Jika jawabannya tidak, maka yang jadi pertanyaan atas dasar apa kita dengki dengan apa yang dimiliki oleh mereka? Inilah yang dipahami oleh sahabat Abu ad-Darda radliallahu ‘anhu, hakiimu hadzihi al-ummah, orang yang paling bijaksana di umat ini, beliau mengatakan,

أهل الأموال يأكلون ونأكل، ويشربون ونشرب، ويلبسون ونلبس، ويركبون ونركب، ولهم فضول أموال ينظرون إليها وننظر إليها معهم، وحسابهم عليها ونحن منها برآء

“Orang yang kaya makan dan kami pun juga makan, mereka minum begitupula dengan kami, kami berpakaian sebagaimana juga dengan mereka, kami berkendara demikian pula dengan mereka, mereka memiliki harta yang berlebih untuk dilihat bersama-sama dengan kami. Namun mereka dihisab atas harta tersebut, adapun kami berlepas diri dari hal tersebut.” (Az-Zuhd)

Beliau juga mengatakan,

الحمد لله الذي جعل الأغنياء يتمنون أنهم مثلنا عند الموت، ولا نتمنى أننا مثلهم حينئذ، ما أنصَفَنا إخوانُنا الأغنياء: يحبوننا على الدِّين، ويعادوننا على الدنيا

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan orang kaya berangan-angan agar menjadi seperti kami ketika menghadapi kematian, sedangkan kami pada saat itu tidak berkeinginan menjadi seperti mereka. Saudara kami yang kaya tidak berlaku adil, mereka mencintai kami karena menginginkan agama kami, namun mereka memusuhi kami karena dunia yang mereka miliki.” (Al-Mutamanniyi)

KEKAYAAN YANG HAKIKI

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كن ورعًا تكن أعبد الناس، وكن قنعًا تكن أشكر الناس

“Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling baik dalam beribadah. Dan jadilah seorang yang qana’ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur.”

(HR. Ibnu Majah)

Seorang yang qana’ah (ridha atas pemberian-Nya) terhadap rezeki yang diterima niscaya akan bersyukur kepada Allah azza wa Jalla. Dia menganggap dirinya sebagai orang yang kaya. Sebaliknya, jika tidak berlaku qana’ah, yang ada adalah perasaan merasa kurang, menganggap sedikit pemberian Allah azza wa Jalla, sehingga tidak akan memperoleh kehidupan yang baik ( al-hayah ath-thayyibah). Seorang ahli hikmah mengatakan,

وجدت أطول الناس غمًّا الحسود، وأهنأهم عيشًا القنوع

“Saya menjumpai bahwa orang yang paling banyak berduka adalah mereka yang ditimpa penyakit dengki. Dan yang paling tenang kehidupannya adalah mereka yang dianugerahi sifat qana’ah.”

(Ihya ‘Uluum ad-Diin)


Qana’ah akan membentengi kita dari sifat yang tercela seperti hasad atau dengki. Tidak jarang dikarenakan kedengkian seseorang melakukan berbagai perbuatan dosa, baik itu menggunjing ( ghibah), mengadu domba ( namimah), berdusta atau bahkan berbuat khianat dan tidak amanah dalam urusan harta, seperti korupsi misalnya. Kontra dengan seseorang yang qana’ah, dengan sifat qana’ah yang dia miliki seorang hamba akan menempuh cara yang halal dalam mencari rezeki, bukan menerjang yang haram.
Semua perbuatan tercela di atas dilakukan karena motivasi duniawi, menginginkan harta yang lebih, merasa kurang atas rezeki yang diperoleh. Jika seorang berlaku qana’ah pastilah dia akan terhindar dari berbagai bentuk dosa besar tersebut, hatinya tidak akan terasuki rasa dengki terhadap rezeki yang Allah Azza wa Jalla tetapkan kepada saudaranya, karena dia sendiri telah ridha terhadap apa yang dia miliki. Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata,

اليقين ألا ترضي الناس بسخط الله، ولا تحسد أحدًا على رزق الله، ولا تَلُمْ أحدًا على ما لم يؤتك الله؛ فإن الرزق لا يسوقه حرص حريص، ولا يرده كراهة كاره؛ فإن الله – تبارك وتعالى – بقسطه وعلمه وحكمته جعل الرَّوْح والفرح في اليقين والرضى، وجعل الهم والحزن في الشك والسخط

“Al-Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, engkau tidak dengki kepada seorangpun atas rezeki yang ditetapkan Allah dan tidak mencela seorang pun atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan dan tidak akan tertolak karena kebencian. Sesungguhnya Allah ta’ala, dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya, menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridla kepada-Nya serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keragu-raguan (tidak yakin atas takdir Allah) dan kebencian (atas apa yang telah ditakdirkan Allah).”

(Syu’ab al-Imaan)


Beberapa hadits Nabi menjelaskan bahwa kekayaan hakiki itu letaknya di hati, yaitu sifat qana’ah atas rezeki yang telah diberikan Allah, bukan terletak pada kuantitas harta.
Ibnu Baththal menjelaskan sabda Nabi Muhammas shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau mengatakan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati,

معنى الحديث ليس حقيقة الغنى كثرة المال، فكثير من الموسع عليه فيه لا ينتفع بما أوتي، جاهد في الازدياد لا يبالي من أين يأتيه. فكأنه فقير من شدة حرصه، وإنما حقيقة الغنى غنى النفس، وهو من استغنى بما أوتي وقنع به ورضي ولم يحرص على الازدياد ولا ألحّ في الطلب. وقال القرطبي: وإنما كان الممدوح غنى النفس لأنها حينئذ تكفّ عن المطامع فتعزّ وتعظم، ويحصل لها من الحظوة والشرف والمدح أكثر من الغنى الذي يناله مع كونه فقير النفس لحرصه، فإنه يورّطه في رذائل الأمور وخسائس الأفعال لدناءة همته وبخله وحرصه، فيكثر من يذمه من الناس فيصغر قدره عندهم فيصير أحقر من كل حقير وأذلّ من كل ذليل

“Arti hadits ini adalah kuantitas harta yang banyak bukanlah kekayaan yang hakiki. Banyak orang yang memperoleh keluasan harta tidak mampu mengambil manfaat dari harta yang diperoleh, mereka bersungguh-sungguh mencari harta yang berlimpah tanpa mempedulikan dari mana harta itu berasal, seolah-olah dirinya adalah seorang yang fakir karena saking semangat dalam mencari. Sesungguhnya kekayaan hakiki adalah kekayaan hati, yaitu dengan merasa cukup, qana’ah, dan ridha terhadap apa yang diberi serta tidak tamak mencari dan terus-terusan meminta kelebihan harta. Al-Qurthubi berkata, “Sifat yang terpuji adalah kaya hati karena akan mampu mencegah seorang dari berbagai ambisi yang tak akan berhenti jika dituruti. Dengan sifat tersebut seorang akan memperoleh kehormatan, kemuliaan, dan pujian yang lebih daripada mereka yang kaya harta namun sesungguhnya berhati miskin saking tamaknya dalam mencari harta. Hal itu justru akan menjerumuskan ke dalam berbagai perbuatan yang hina dan tak beretika karena terdorong oleh hasrat yang rendah, sifat pelit, dan ketamakan. Dengan demikian, banyak orang akan mencelanya, memandang remeh kedudukannya meski dia kaya harta, sehingga dia pun menjadi seorang yang paling rendah dan hina.”

(Syarh Shahih al-Bukhari)


Tolok ukur kaya dan miskin itu terletak di hati. Siapa yang kaya hati, tentu akan hidup dengan nyaman, penuh kebahagiaan dan dihiasi dengan keridhaan, meski di kehidupan nyata dia tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Sedangkan seorang yang miskin hati, meski memiliki segala apa yang ada di bumi kecuali uang seratus perak, niscaya akan tetap memandang bahwa kekayaannya terletak pada seratus perak tersebut. Dirinya tidak akan merasa cukup, kecuali dia telah memiliki uang itu. Demikianlah, qana’ah pada hakikatnya adalah kaya hati, kenyang dengan apa yang ada di tangan, tidak tamak, tidak pula cemburu dengan harta orang lain, tidak juga meminta lebih terus menerus, karena jika terus terusan meminta lebih, itu berarti masih miskin.


Seseorang yang qana’ah tidak akan menyusahkan orang lain dengan berharap mereka memenuhi kebutuhannya. Mulia karena seorang yang qana’ah tidak akan mudah untuk meminta-minta kepada manusia. Dalam sebuah hadits disebutkan,

شَرفُ المؤمِنِ قيامُ اللَّيلِ وعزُّهُ استِغناؤُهُ عنِ النَّاسِ

“Kehormatan seorang mukmin terletak pada shalat malam dan kemuliaannya terletak pada ketidak-bergantungannya pada manusia.”

(HR. al-Hakim)


Kita harus memperkuat keimanan terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, kesabaran dan tawakkal. Rezeki termasuk salah satu yang telah ditakdirkan Allah Azza wa Jalla bagi setiap hamba-Nya, bahkan ketika dia belum terlahir ke dunia dan masih berada dalam rahim sang ibu, bahkan sejak azali seluruh hal yang terkait dengan hamba-Nya telah ditetapkan oleh-Nya. Jika kita benar-benar memahami hal ini, maka rasa gelisah atas rezeki yang ada tidak sepatutnya terjadi. Oleh karenanya, keimanan terhadap takdir Allah Azza wa Jalla merupakan pondasi yang dapat melahirkan sifat qana’ah, diiringi dengan memperkuat sifat sabar dan tawakkal (berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla). Ketika sifat qana’ah tidak terdapat dalam diri kita berarti ada kekurangan dalam keimanan terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, kesabaran kita masih minim, begitu pula dengan sikap tawakkal…


Marilah kita mentadzabburi firman Allah Azza wa Jalla dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama berbagai ayat yang menerangkan tentang rezeki dan usaha yang dikerahkan manusia untuk memperoleh penghidupan, yang semuanya itu berpulang pada takdir Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla menerangkan bahwa Dia telah menetapkan rezeki kepada para hamba-Nya,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

(QS. Huud: 6)

Begitu juga firman Allah Azza wa Jalla yang menanamkan nilai bahwa campur tangan manusia sama sekali tidak mempengaruhi seluruh rezeki yang telah Dia tetapkan,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Apa saja yang Allâh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh-Nya maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.”

(QS. Faathir: 2)

Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan diwafatkan kecuali setelah Allah Azza wa Jalla menyempurnakan jatah rezeki yang ditetapkan untuknya,

أيها الناس اتقوا الله و أجملوا في الطلب فإن نفسا لن تموت حتى تستوفي رزقها و إن أبطأ عنها فاتقوا الله و أجملوا في الطلب خذوا ما حل و دعوا ما حرم

“Wahai manusia bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, sesungguhnya seorang itu tidak akan mati sehingga lengkap jatah rezekinya. Jika rezeki itu terasa lambat datangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan carilah dengan cara yang, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.”

(HR. Al Baihaqi)


Kita harus memahami hikmah dari Allah Azza wa Jalla menciptakan perbedaan rezeki dan kedudukan di antara hamba-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

(QS. Az-Zukhruf: 32)

Salah satu hikmah timbulnya perbedaan rezeki sehingga ada yang kaya dan yang miskin adalah agar kehidupan di bumi bisa berlangsung, terjadi hubungan timbal-balik di mana kedua pihak saling mengambil manfaat, yang kaya memberikan manfaat kepada yang miskin dengan harta, sedangkan yang miskin memberikan bantuan tenaga kepada yang kaya, sehingga keduanya menjadi sebab kelangsungan hidup bagi yang lain (Tafsir al-Baghawi). Selain itu, kondisi kaya dan miskin itu merupakan ujian, dengan keduanya Allah Azza wa Jalla hendak melihat siapakah di antara para hamba-Nya yang berhasil,

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ

“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa yang saling menggantikan) di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu terkait apa yang diberikannya kepada kamu.”

(QS. Al-An’am: 165)


Berdoalah memohon agar kita dianugerahi sifat qana’ah. Praktik Nabi mencontohkan hal tersebut, kehidupan ekonomi beliau yang bersahaja tidak membuat beliau mengeluh, bahkan beliau berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar rezeki beliau dan keluarga sekedar untuk menutup lapar. Menunjukkan betapa qana’ah pribadi beliau. Kita dapat mencontoh beliau, memohon agar Allah Azza wa Jalla memberikan kita sifat qana’ah. Salah satu do’a yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbad radliallahu ‘anhuma adalah do’a berikut,

اللَّهُمَ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَيَّ كُلَّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang qana’ah terhadap rezeki yang Engkau beri, dan berkahilah, serta gantilah apa yang luput dariku dengan sesuatu yang lebih baik.”

(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

TETAP DI JALUR YANG BENAR

Allah Azza wa Jalla memberikan peringatan kepada kita sebagaimana firman-Nya,

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗ وَتِلْكَ الْاَ يَّا مُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّا سِ ۚ وَلِيَـعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”

(QS. Ali ‘Imran: 140)


Ada orang di sekitar kita yang menunggu pagi, hanya untuk dicuci ginjalnya… dan ada yang tengah dirawat di ruang ICCU untuk bernafas dengan bantuan ventilator…

Ada orang di sekitar kita yang menunggu pagi, hanya untuk mengambil dan menebus obatnya…

Ada juga orang di sekitar kita pagi hari menggigil karena semalaman hujan lebat dan tidak punya tempat berteduh…

Bahkan ada juga orang di sekitar kita yang pagi harinya tidak mendapatkan apapun untuk dimakan…

Ada juga orang di sekitar kita yang pagi harinya dilanda musibah kebakaran, gempa bumi, tanah longsor, mendapat serangan jantung, Covid -19, hingga datangnya kematian…

MasyaAllah…
Jangan biarkan hari-hari diisi dengan ratapan keluh kesah, sumpah serapah, hujatan dan cacian…

Begitu seringnya kita setiap bangun pagi dari lelap tidur dalam kenyamanan, sehingga menganggap segala nikmat-Nya seolah merupakan hal biasa dan baru terasa sangat berharga di saat Allah Azza wa Jalla telah mengambilnya dari kita…


Allah Azza wa Jalla mempergilirkan musibah dan nikmat, kesempitan dan kelapangan, kesedihan dan kegembiraan, kegagalan dan kesuksesan, kemiskinan dan kekayaan, kekalahan dan kemenangan dalam bioritme kehidupan kita…

Semua ini diberlakukan untuk mendinamisasi kehidupan, agar kita bisa belajar dari pengalaman hidup dan merasakan beragamnya keadaan. Sehingga kita menjadi pribadi yang matang, tangguh dan tegar di atas nilai-nilai kebenaran, bagaimanapun keadaannya…


Sesuai iradah (kehendak) Allah Azza wa Jalla, saat gagal kita bisa mengetahui bagaimana rasa kegagalan dan bagaimana menyikapi kegagalan sebagaimana diajarkan Islam. Demikian pula saat mendapatkan kesuksesan. “Dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman”…

Saat mendapat kekalahan, kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dan menunjukkan akhlak Muslim saat mendapat kekalahan. Saat mendapat kemenangan, kita bisa menunjukkan akhlak Muslim sebagai pemenang, di samping mendapat banyak pelajaran…

Gagal dan sukses, kalah dan menang sudah menjadi iradah-Nya dalam kehidupan. Tapi yang paling penting tetap berada di jalur yang benar dan tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam, baik saat kalah atau menang, saat gagal atau sukses…

Dengan demikian, semua keadaan yang kita alami menjadi kebaikan bagi kita. Inilah keunggulan yang membedakan kita sebagai seorang Muslim dari orang lain. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kekaguman dan apresiasinya kepada sikap seperti ini, dalam sebuah sabdanya,

” عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ ؛ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ ؛ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ، فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ، حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ “.

“Saya kagum kepada orang Mukmin: Jika mendapat kebaikan, ia memuji Tuhannya dan bersyukur. Jika mendapat musibah, ia memuji Tuhannya dan bersabar. Orang Mukmin diberi pahala dalam semua urusannya, hingga diberi pahala pada suapan (makanan) yang diberikannya ke mulut istrinya”.

(Musnad Ahmad, 1492)


Pastikanlah bahwa kita mendapat pahala dan pelajaran dari semua keadaan yang dihadirkan Allah Azza wa Jalla dalam kehidupan kita. Jika tidak, berarti kita merugi besar…

KEMBALI KEPADA AL QUR’AN & SUNNAH

Di dalam Al Qur’an kita diperintahkan untuk mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama itu shahih. Maka kita wajib berpegang teguh dengannya meskipun tidak terdapat perintah tersebut secara persis. Karena secara umum Allah Azza wa Jalla telah berfirman di dalam Al Qur’an,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

“Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.”

(QS. An-Nisa: 80)

Makanya orang-orang yang menolak hadits yang shahih dengan mengatakan tidak terdapat di dalam Al Qur’an, ini adalah kedustaan yang justru mendustakan Al Qur’an itu sendiri. Pembahasan lanjutan dari ayat yang kita bahas tadi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri.”

Ketika menyebutkan “taat kepada Rasul”, diulangi. Menunjukkan taat kepada Rasul itu tersendiri, wajib untuk dilakukan selama ada berita dari hadits yang sahih yang sampai kepada kita. Adapun Ulil Amri, tidak diulangi “ketaatan kepadanya”, tapi digandengkan dengan perintah ketaatan sebelumnya. Hal ini menunjukkan ketaatan kepada Ulil Amri harus termasuk di dalam ketaatan kepada Rasul. Yakni tidak boleh menyelisihi perintah Allah Azza waJalla dan Rasul-Nya. Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim di sini bahwa adapun pemimpin di sini, maka tidak wajib kita mentaati salah seorang di antara mereka, kecuali kalau termasuk di dalam ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Jadi, ketaatan kepada Ulil Amri di sini harus sesuai dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus dalam rangka taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ini kaidahnya.
Sudah kita bahas tadi, taat kepada Allah Azza wa Jalla, taat kepada Rasul-Nya, seandainya ada sebuah perintah di dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak disebutkan di dalam Al Qur’an secara dzatnya, maka tetap wajib untuk kita taati. Karena taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Adapun kalau ketaatan kepada Ulil Amri harus benar-benar tercakup di bawah ketaatan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukanlah ketaatan yang berdiri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘Alalaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

“Wajib bagi seorang manusia untuk selalu mendengarkan dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin dalam hal-hal yang disukainya atau dibencinya selama tidak diperintahkan berbuat maksiat kepada Allah, maka jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, jangan dia didengar dan jangan dia ditaati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, ketaatan kepada pemimpin harus terikat dengan ketaatan dalam perkara yang dibenarkan dalam syariat, bukan dalam perkara yang merupakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla. Inilah rahasianya kenapa kalimat perintah di dalam ayat disebutkan,

أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ

Taatlah kepada Allah, (lalu diulang lagi) dan taatlah kepada Rasul. Setelah itu ketika mengatakan Ulil Amri tidak disebutkan lagi “taatlah kepada Ulil Amri”, tapi langsung digandengankan saja tanpa kata perintah “taatlah kepada pemimpin”. Ini menunjukkan ketaatan kepada pemimpin mengikuti ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni tidak boleh dalam maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya..

Maka perhatikan bagaimana di firman Allah Azza wa Jalla berikutnya, konsekuensi makna ini diulang kembali di dalam firman-Nya,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ

“Dan jika kalian berselisih pendapat tentang suatu masalah, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Makna Ulil Amri di sini mencakup pemerintah dan para ulama (orang-orang yang berilmu) yang mereka adalah pemimpin manusia. Jika mereka berselisih pendapat, kembalikan kepada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Bukan kembalikan kepada pendapat semata-mata. Inilah konsekuensi orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir…


Dalam ayat ini Allah Azza waJalla berfirman, “maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.” Allah tidak berfirman, “Dan kembalikanlah kepada Rasul-Nya”. Karena kalau kita mengembalikan permasalahan kepada Al Qur’an, berarti kita kembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Al Qur’an diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang menyampaikan Al Qur’an kepada kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alalaihi wa sallam, wahyu yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada beliau. Maka mengembalikan kepada Al Qur’an berarti mengembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sebagaimana mengembalikan kepada Sunnah juga berarti mengembalikan kepada Allah dan RasulNya.
Maka ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla, pada dzatnya merupakan hukum Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hukum itu pada dzatnya juga merupakan hukum Allah Azza wa Jalla. Jadi, tidak boleh kita membedakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya adalah demikian banyak, lebih dari puluhan ayat,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu maka ambillah dan apa yang dilarang oleh Rasul maka tinggalkanlah.”

(QS. Al-Hasyr: 7)

Kemudian ayat yang tadi kita bacakan,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

“Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.”

(QS. An-Nisa: 80)


Ini semua menggambarkan kepada kita tentang keharusan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang itu merupakan inti dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka jika kita dalam sesuatu yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Allah Azza wa Jalla (Al Qur’an), maka berarti kita telah mengembalikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula jika kita mengembalikan kepada Rasul, kepada hadits yang shahih, kepada sunnah beliau, maka berarti kita telah mengembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ini termasuk rahasia kandungan Al Qur’an, hikmah yang sangat tinggi dari makna Al Qur’an yang kita dapatkan dari ayat yang sedang kita bahas ini…

Subhanallah, ini juga menunjukkan kepada kita bahwa ketika ada permasalahan, kita harus kembalikan kepada dalil. Karena ketika di sini diperintahkan taatlah kepada Allah taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada Ulil Amri. Yakni pemimpin dan para ulama. Kita taati mereka karena mereka yang membawa agama. Tapi kalau terjadi perselisihan pendapat, kembalikannya kepada dalil, bukan kembali kepada pendapat. Ada sebagian orang ketika dia mendapati permasalahan dalam agama, dia mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya kemudian dia mengatasnamakan bahwa ada ulama yang berkata demikian, ini ada ustadz yang berpendapat demikian. Kita diperintahkan untuk mengembalikan kepada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Ini konsekuensi iman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir, konsekuensi iman yang benar dalam diri manusia,

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kembalikanlah perselisihan pendapat itu kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Siapa Ulil Amri itu?
Siapakah yang dimaksud dengan “para pemimpin di antara kamu”? Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu bahwa dari penjelasan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu imam besar Ahlus Sunnah…


Dalam menjelaskan makna Ulil Amri ada dua riwayat yang dinukil dari pernyataan Imam Ahmad; Pertama, mereka adalah orang-orang yang berilmu (para ulama) karena mereka memimpin umat dalam ilmu, dalam pengajaran dan bimbingan agama. Kedua, mereka adalah para penguasa, para pemimpin, pemerintah. Karena pemerintah adalah pemimpin manusia dalam urusan yang berhubungan dengan kenegaraan, keamanan, pengamalan dari hal-hal yang berhubungan dengan kemaslahatan hidup manusia, penjagaan atau penegakan hukum di kalangan mereka.
Kata Imam Ibnul Qayyim bahwa dua pendapat atau dua perkataan dari Imam Ahmad ini kedua-duanya disebutkan dari ucapan Sahabat ketika menafsirkan ayat ini. Jadi sebagian Sahabat ada yang mengartikan Al-Umara’, ada juga yang mengartikan Al-Ulama.
Kata Ibnul Qayyim bahwa pendapat yang shahih dalam pengertian Ulil Amri yaitu mencakup gua golongan manusia ini. Karena orang-orang yang berilmu (para ulama) dan para penguasa/para pemimpin/pemerintah, mereka adalah pemerintah yang memegang urusan manusia yang Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya dengan hal itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kita ketahui di Madinah adalah sekaligus sebagai pemimpin dan sebagai pendidik atau pembimbing manusia dalam urusan agama mereka sewaktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berhijrah ke Madinah. Allah Azza wa Jalla jadikan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pembimbing manusia dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dalam urusan agama mereka…

MENAKAR KADAR IMAN & AMAL

Kata iman dan amal shalih di dalam Al-Qur’an hampir selalu bergandengan. Kedua kata tersebut disebutkan secara berulang-ulang di dalam Kitabullah. Tujuannya tentu agar setiap Muslim yang telah mengikrarkan keimanannya, bahkan di bawah sumpah jabatannya kepada Allah Azza wa Jalla senantiasa melaksanakan amal-amal shalih, yaitu dengan menjalankan syariah-Nya secara kâffah (total)…


Patut disayangkan, saat ini masih banyak kaum Muslim yang mengaku mengimani Allah Azza wa Jalla, tetapi mengabaikan ketaatan pada syariah-Nya. Padahal iman yang hakiki menuntut pengamalan seluruh syariah-Nya. Dalam hal ini Allah Azza wa Jalla tegas menolak keimanan seseorang yang enggan tunduk pada syariah-Nya,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

(QS. An-Nisa’: 65)


Allah Azza wa Jalla juga mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum munafik yang mengklaim beriman, padahal mereka berpaling pada selain hukum-Nya atau kepada thâghût,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Tidakkah kamu memperhatikan kaum yang mengklaim telah mengimani apa saja yang telah diturunkan kepadamu dan pada apa saja yang telah diturunkan kepada kaum sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thâghût, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thâghût itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

(QS. An-Nisa’: 60)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa thâghût adalah segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla yang disembah, diikuti atau ditaati manusia. Thâghût juga bermakna setiap kaum yang berhukum pada selain hukum Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya…


Iman yang hakiki akan membuahkan kesungguhan untuk berIslam secara total (kâffah) sesuai perintah Allah Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”

(QS. Al-Baqarah: 208)


Dengan dorongan iman, seorang Mukmin tak membeda-bedakan hukum Allah Azza wa Jalla yang satu dengan yang lain; antara kewajiban shalat dan kewajiban memberlakukan hukum antara haramnya daging babi dan haramnya riba’, termasuk korupsi, kolusi, nepotisme dan seterusnya. Semua ia terima dengan penuh ketundukan. Keimanannya kepada Allah Azza wa Jalla membuat dirinya meyakini kewajiban pelaksanaan hukum Islam secara kâffah, bukan setengah-setengah…


Hukum menegakkan kebenaran dan keadilan adalah wajib; sama dengan jihad, zakat, qishâsh, perlindungan kepada ahludz dzimmah, dan lain lain. Tak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang tidak menyatakan kewajiban penegakkan kebenaran dan keadilan…

Karena itu sungguh ironi mengklaim diri sebagai pewaris Ahlu Sunnah jika punya sikap bertolak belakang dengan pendapat para imam yang agung, dengan menolak kebenaran dan keadilan. Apalagi sampai menghalangi kaum Muslim untuk menjalankan ketaatan total kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dengan cara menegakkan kebebaran dan keadilan. Ini merupakan dosa besar. Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“Itulah orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”

(QS. Ibrahim: 3)


Atas segala penolakan dan upaya penghadangan terhadap pelaksanaan kebenaran dan keadilan Allah Azza wa Jalla, kaum Muslim hendaknya tidak memperhitungkan sedikitpun kebencian manusia pada agama-Nya dan segala tindakan mereka yang berusaha menghalangi-halangi orang dari jalan-Nya. Seorang Muslim hanya memperhitungkan ridha atau murka Allah Azza wa Jalla semata. Ia akan tetap gigih menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla sekalipun banyak orang membenci perbuatannya. Sebaliknya, ia tak akan mengerjakan amal yang dibenci Allah Azza wa Jalla sekalipun banyak orang memuja-muja perbuatan tersebut. Muslim seperti inilah yang akan mendapatkan limpahan ridha Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, Muslim yang memburu ridha manusia dengan membuang ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla akan ditimpa kemurkaan-Nya,

مَن اِلْتَمَسَ رِضَى الله بِسُخطِ النَاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى النَاسُ عَنْهُ وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاس بِسُخطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Siapa saja yang mencari ridha Allah meski mengundang kemarahan manusia maka Allah meridhai dia dan membuat manusia ridha kepada dirinya. Siapa saja yang mencari ridha manusia tetapi mengundang kemurkaan Allah maka Allah memurkai dia dan membuat manusia murka kepada dirinya.”

(HR. Ibnu Hibban)

Karena itu seruan manusia yang mencoba menghalang-halangi penegakkan amar ma’ruf nahi munkar (perintah berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah seruan yang tidak layak untuk didengar dan ditaati. Seruan tersebut hakikatnya adalah kebatilan. Padahal ketaatan adalah semata-mata dalam perkara yang ma’ruf, bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Sungguh ketaatan itu hanya adalah dalam hal yang ma’ruf.”

(HR. Al-Bukhari)


Sekalipun adanya tekanan, intimidasi, fitnah bahkan persekusi harus dihadapi oleh setiap Muslim dengan penuh kesabaran. Kaum Mukmin memahami bahwa hal ini adalah ujian dari Allah Azza,wa Jalla. Ujian ini juga dialami oleh para para Nabi dan para Rasul-Nya,

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kalian. Akan tetapi, mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.”

(QS. Al-An’am: 34)


Sabar bukan berarti berdiam diri, namun terus menunjukkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berusaha mengubah kemungkaran yang ada. Saad bin Abi Waqqash ra. tegar dalam keimanannya sekalipun ibunya yang dia sayangi mengancam akan berpuasa sampai mati. Pasangan syuhada Sumayyah dan Yasir ra. memilih mengorbankan nyawa mereka ketimbang mengikuti paksaan untuk murtad dari kaum musyrik. Pada saat berdakwah di Makkah, kaum musyrik Quraisy melarang dan membenci siapa saja yang melakukan shalat dan membaca al-Quran di depan umum. Namun demikian, larangan itu tak menghalangi sejumlah sahabat, seperti Abdullah bin Mas’ud ra. dan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. untuk membacakan al-Quran di depan Ka’bah sekalipun setelah itu mereka mengalami persekusi bahkan penyiksaan…

Alhasil, hendaklah kita tetap sabar dan istiqamah di dalam ketaatan secara total kepada Allah Azza wa Jalla. Janganlah berbagai fitnah dan kezaliman yang mendera kita membuat kita bergeser dari ketaatan kepada-Nya. Inilah jalan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjemput keridhaan-Nya sekaligus meraih pertolongan-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) hingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ingatlah, sungguh pertolongan Allah itu amat dekat.”

(QS. Al-Baqarah: 214)

BUKTI CINTA YANG HAKIKI

Dalam rangka menyambut Maulid Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, sudah seharusnya kita merenungkan kembali firman Allah Azza wa Jalla,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

“Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(QS. Ali Imran: 31)

Ayat yang agung ini mengajarkan kepada setiap hamba cinta hakiki kepada Allah Azza wa Jalla. Cinta yang tak sekadar hiasan lisan semata. Cinta yang lahir dari keimanan kepada-Nya. Cinta ( mahabbah ) inilah yang beralamat dan berbuah taat. Ya, cinta itu bersyarat, dan alamatnya adalah taat. Allah Azza wa Jalla dalam ayat yang agung mengawali pesan-Nya dengan kalimat syarat. Ditandai keberadaan in syarthiyyah, yang menjadikan perbuatan ittibâ’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai bukti kecintaan kepada-Nya. Ditunjukkan oleh sikap taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Pelakunya akan diganjar dengan ganjaran yang sangat istimewa, yakni rahmat dan ampunan-Nya. Ini sejalan dengan uraian para ulama mu’tabar yang berbicara dalam topik al-mahabbah. Cinta inilah yang mendorong hamba pada ketaatan meniti jalan kebenaran dan istiqamah di atasnya,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Sungguh (yang Kami perintahkan) inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu, ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa.”

(QS. Al-An’am: 153)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir. Lalu di kanan dan kiri itu beliau menggariskan garis-garis yang banyak. Kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus, sementara ini adalah jalan-jalan yang di setiap pintunya ada setan yang mengajak ke jalan itu.” Selanjutnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam membaca QS. Al-An’am 153 di atas. Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti jalan yang lurus serta melarang kita untuk mengikuti jalan yang lain. Frasa la’allakum tattaqûn dalam ayat ini menunjukkan hikmah di balik seruan tersebut, yakni sebagai realisasi ketakwaan kepada-Nya. Anas bin Malik ra. menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْيَا سُنَّتي فَقَدْ أَحَبَّنِي, وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

“Siapa saja yang menghidupkan Sunnahku, sungguh ia telah mencintaiku. Siapa saja yang mencintaiku pasti akan bersamaku menjadi penghuni surga.”

(HR at-Tirmidzi dan ath-Thabarani).

Hadits yang agung ini mengandung informasi berharga. Siapa saja yang mengaku mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam wajib membuktikan cintanya dengan menghidupkan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Lafal ahyâ dalam frasa man ahyâ sunnatî berkonotasi “menghidupkan”. Menurut para ulama, maknanya adalah mempelajari, mengamalkan, meneladani, mendakwahkan dan membelanya dari segala bentuk tikaman dan penyimpangan. Demikian sebagaimana dituturkan oleh Imam Izzuddin ash-Shan’ani.

(lihat Syarh al-Jâmi’ ash-Shaghîr, X/55)


Lafal sunnatî berkonotasi tharîqî, yakni jalan hidupku. Ini mencakup seluruh ajaran-ajaran yang beliau gariskan untuk umatnya, baik berupa ucapan ( qawliyyah) maupun perbuatan ( fi’liyyah) yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bagi umatnya. Al-Hafizh Ibn al-Atsir dalam Al-Nihâyah fi Gharîb al-Hadîts (II/409) menguraikan, “Sunnah asalnya bermakna tharîqah (metode) dan sîrah (jalan hidup). Disebutkan secara syar’i, yang dimaksud dengan kata itu adalah apa saja yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan dan beliau larang, baik berupa perkataan maupun perbuatan, selain ungkapan ayat Al-Quran…


Secara umum, gambaran hidup Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menggambarkan keteladanan praktis penegakan Islam secara totalitas ( kâffah ) dalam seluruh aspek kehidupan…

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوا عَلَيْهَا لنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berdiri di atas sunnahku dan sunnah para khalifah ar-râsyidîn al-mahdiyyîn (khalifah yang mendapatkan petunjuk). Gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat.”

(HR. Ahmad dan Ibn Majah)


Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam meminjam istilah gigitlah dengan gigi geraham yang kuat. Ini sebagai kiasan ( al-isti’ârah ) agar konsisten berpegang teguh pada sunnah, yakni jalan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafâ’ al-Râsyidûn…

Al-Hafizh Ibn al-Jauzi berkata,

تعصى الإله وأنت تزعم حبه # هذا محال في القياس بديع
لو كان حبك صادقًا لأطعته# إن المحبلمن يحب مطيع

“Kau bermaksiat kepada Allah seraya mengaku mencintai-Nya/Ini mustahil dalam suatu kiasan. Andai cintamu benar pasti kau akan menaati-Nya/Sebab sungguh pecinta itu taat kepada yang dia cinta.”

(Bahr al-Dumû’ hlm. 28)

PUJIAN DAPAT MEMBINASAKAN

Syeikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harrani -rahimahullah- menuturkan :

العالم يعرف الجاهل لأنه كان جاهلا وتعلم..
ولكن الجاهل لايعرف العالم
لأنه لم يكن عالما.
ولايعرف فضل أهل الفضل الا ذو الفضل

“Orang yang berilmu mengetahui akan orang yang bodoh, sebab dahulunya diapun bodoh, kemudian belajar…

Namun orang yang bodoh tidak mengetahui (kedudukan) orang yang berilmu, sebab dia belum menjadi orang yang berilmu,

Dan seseorang tidak akan mengetahui keutamaan dari orang yang memiliki keutamaan, kecuali orang tersebut juga memiliki keutamaan tersebut.”

(Jawabul I’tiradjaat Al-Mishriyah, hlm. 172)

Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Anbiya’: 35)

Pada hakikatnya pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah Azza wa Jalla, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻣُﻬْﻠِﻜَﺎﺕٌ : ﺷُﺢٌّ ﻣُﻄَﺎﻉٌ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻊٌ ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ‘ujub (takjub pada diri sendiri).”

Sesungguhnya kita lebih membutuhkan doa daripada pujian, karena biasanya pujian berpotensi dapat menipu diri kita…

Sufyan bin Uyainah berkata,

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ

“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”

Karena itu kita dilarang untuk memuji seseorang dengan berlebihan, sekalipun dalam pandangan kita orang tersebut layak untuk kita berikan pujian…

Ada suatu kisah yang dapat kita ambil _ibrah_ (pelajaran) darinya. Suatu hari ketika Syufay al-Ashbahani memasuki kota Madinah, tiba-tiba dia mendapati seseorang yang sedang dikerumuni orang banyak, maka dia pun bertanya,

“Siapakah orang ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah Abu Hurairah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka Syufay pun mendekat hingga dia duduk di hadapan Abu Hurairah, yang saat itu dia sedang menyampaikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para hadirin. Ketika selesai dan hadirin telah meninggalkan tempat, Syufay berkata, “Sebutkanlah untukku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat engkau hafal dan engkau pahami.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.” Saat Abu Hurairah akan menyebutkan hadits itu tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.
Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.”
Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat.
Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat.
Ketika siuman dia mengusap wajahnya dan berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi dalam waktu yang cukup panjang, hingga Syafi’i pun menyandarkan Abu Hurairah ke tubuhnya, sampai beliau siuman.

Ketika sadar beliau berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

إن الله تبارك و تعالى إذا كان يوم القيامة نزل إلى العباد ليقضي بينهم و كل أمة جاثية فأول من يدعو به رجل جمع القرآن ورجل يقتل في سبيل الله ورجل كثير مال فيقول للقارىء: ألم أعلمك ما أنزلت على رسولي ؟ قال: بلى يا رب, قال: فماذا عملت فيما علمت؟, قال: كنت أقوم به أثناء الليل و آناء النهار, فيقول الله له: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, ويقول الله: بل أردت أن يقال: فلان قارىء فقد قيل. ويؤتى بصاحب المال فيقول الله: ألم أوسع عليك حتى لم أدعك تحتاج إلى أحد؟, قال: بلى, قال: فماذا عملت فيما آتيتك؟, قال: كنت أصل الرحم و أتصدق, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, فيقول الله: بل أردت أن يقال فلان جواد فقد قيل ذاك. ويؤتى بالذي قتل في سبيل الله فيقال له: فيم قتلت؟, فيقول: أمرت بالجهاد في سبيلك فقاتلت حتى قتلت, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, و يقول الله عز و جل له: بل أردت أن يقال فلان جريء فقد قيل ذلك, ثم ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم على ركبتي فقال: يا أبا هريرة أولئك الثلاثة أول خلق الله تسعر بهم النار يوم القيامة

“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan turun kepada para hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan saat itu masing-masing dari mereka dalam keadaan berlutut.

Lantas yang pertama kali dipanggil oleh-Nya (tiga orang):

Seorang yang rajin membaca Al Quran,
orang yang berperang di jalan Allah dan
orang yang hartanya banyak.

Maka Allah pun berkata kepada si Qori’, ‘

Bukankah Aku telah mengajarkan padamu apa yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku?’

Si Qori’ menjawab, ‘Benar ya Allah.’

Allah kembali bertanya, ‘Lantas apa yang telah engkau amalkan dengan ilmu yang engkau miliki?’

Si Qori menjawab, ‘Aku (pergunakan ayat-ayat Al Quran) yang kupunyai untuk dibaca dalam shalat di siang maupun malam hari,’

serta merta Allah berkata, ‘Engkau telah berdusta!’
Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lantas Allah berfirman, ‘Akan tetapi (engkau membaca Al Quran) agar supaya engkau disebut-sebut qori’! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Kemudian didatangkanlah seorang yang kaya raya, lantas Allah berfirman padanya,

‘Bukankah telah Kuluaskan (rizki)mu hingga engkau tidak lagi membutuhkan kepada seseorang?

” Dia menyahut, ‘Betul.’ Allah kembali bertanya,

‘Lantas engkau gunakan untuk apa (harta) yang telah Kuberikan padamu?’

Si kaya menjawab, ‘(Harta itu) aku gunakan untuk silaturrahmi dan bersedekah.’

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’
Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau ingin agar dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Lantas didatangkan orang yang berperang di jalan Allah, kemudian dikatakan padanya, ‘

Apa tujuanmu berperang?’

Orang itu menjawab, ‘(Karena) Engkau memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu, maka aku pun berperang hingga aku terbunuh (di medan perang).’

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’
Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetap engkau ingin agar dikatakan engkau adalah si pemberani! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk lututku sambil berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali yang dikobarkan dengannya api neraka di hari kiamat.”

(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya IV:115, no: 2482, Ibnu Hibban juga dalam kitab Shahih-nya II:135, no: 408. Al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/415 berkata, “Isnadnya shahih” dan disepakati oleh adz-Dzahaby dan Al Albani)

Dikisahkan di suatu negeri hiduplah seorang raja yang dia memang sangat ditakuti di negeri ini. Dia menganggap bahwa semua karena wibawa dirinya yang sangat kuat. Padahal sesungguhnya, takutnya banyak orang kepadanya adalah karena ketegaannya memburu dan memenjarakan setiap orang yang berseberangan dengan dirinya. Hormatnya banyak orang kepadanya bukanlah karena ada cinta, kekaguman dan ketundukan melainkan karena ketakutan dan keengganan berurusan dengannya. Sebuah penghormatan palsu. Suatu ketika kucing kesayangan sang raja ini mati, begitu banyak karangan bunga bela sungkawa yang berjejer di depan istananya. Dia semakin merasa bahwa dirinya benar-benar orang besar. Beberapa hari kemudian, saat dia sendiri yang meninggal dunia, ternyata tak banyak orang yang mengirimkan ucapan bela sungkawa. Sedikit sekali dan tak sebanyak karangan bunga kematian kucingnya.
Begitulah nasib orang yang ditakuti dan dihormati bukan karena kemuliaan dirinya, melainkan karena kemuliaan kekuasaannya. Kemuliaan diri itu abadi, sedangkan kemuliaan kekuasaan itu hanyalah pada saat diduduki saja…

MENEBAR KEBAIKAN & SEDEKAH

Kita dianjurkan untuk senantiasa berbuat kebaikan dan kemaslahatan selama kita hidup di dunia. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ

“Berbuat baiklah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

(QS. Al-Qashash: 77)

Asy-Syaikh Al-Allamah DR. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah, seorang Ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia, menjelaskan ayat di atas,

أحسن إلى الناس بالصدقات كما أحسن الله إليك بالمال

“Berbuat baiklah kepada orang lain dengan cara memberi sedekah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dengan memberikan harta kekayaan.”

(Al-Minhatu Ar-Rabbaniyyah fi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 208)


Kemuliaan seseorang itu ditentukan oleh kualitas dirinya dalam menebarkan sedekah, dan maslahat, bukan ditentukan oleh “kursi” atau kedudukannya. Sungguh naif dan tertipu mereka yang bangga dengan “kursi”nya sementara kualitas dirinya lebih rendah dari kualitas “kursi”nya…


Berpihaklah pada kemaslahatan bersama. Mereka yang biasa mengidentifikasi kemuliaan dirinya dengan kursi jabatan yang sedang didudukinya biasanya adalah orang-orang yang berjiwa inferior (rendah). Pada saatnya nanti, mereka akan bertemu dengan kegalauan luar biasa, stress atau depresi, saat kursinya hilang dan berpindah tangan pada orang lain…


Bukankah jabatan itu tak abadi? Berbeda kisah dengan orang-orang tulus yang me”wakaf”kan dirinya untuk kebahagiaan bersama, kemasalahan umum dan kedamaian bersama, mereka senantiasa ceria berbagi kebahagiaan dengan siapapun, kapanpun dan di manapun serta dalam peran dan posisi apapun. Semangatnya hanya satu, yaitu bagaimana cara menuliskan sejarah hidupnya dengan kisah indah yang mampu mengetuk banyak hati bahagia dengan kehadirannya dan mendoakan kebaikan untuk dirinya…


Orang yang bijaksana sering menasehati kita semua untuk jangan mati sebelum menanamkan kebaikan, sebelum membangun “prasasti” sebagai penanda bahwa kita pernah hidup di buminya Allah Azza wa Jalla. Prasasti yang dimaksud adalah berupa kebaikan-kebaikan dan amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya, tak lengkang oleh ruang dan waktu, walau sang pembangun prasasti itu telah wafat…

⁣⁣

PERJUANGAN MERAIH HIDAYAH

Seorang Muslim dalam kehidupannya senantiasa membutuhkan hidayah dari Allah Azza wa Jalla untuk menjaga konsistensi keimananannya. Dimungkinkan paginya seorang beriman namun sore harinya ia menjadi kafir. Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir. Karena tak seorangpun beriman kecuali mendapat izin dari Allah Azza wa Jalla,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّه

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah.”

(QS. Yunus: 100)


Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Seorang muslim senantiasa berdoa di dalam shalatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

(QS. Al Fatihah: 6)

Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia. Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkan agar Allah Azza wa Jalla menghendakinya…

الله يهدي من يشاء

“Dan Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

(QS. An Nuur: 46)


“hidayah itu mahal”. Ya, hidayah memang mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya. Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”

(QS. Al An’am: 59)

Dalam masalah hidayah ini, Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian : Pertama, رَاشِدٌ (râsyid), yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Kedua, غَاوِيٌ (ghâwi), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya. Dan ketiga, ضّالٌّ (dhal), yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh. Setiap râsyid, dia mendapat petunjuk, dan setiap orang yang mendapat petunjuk secara sempurna maka ia dikatakan râsyid. Karena hidayah menjadi sempurna apabila seseorang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, tuntun kami dan tunjuki kami serta berikan kami taufik kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kita kepada Allah Azza wa Jalla dan surga-Nya. Jalan tersebut adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Maka, tunjuki kami kepada jalan yang lurus dan tunjuki kami di dalam jalan yang lurus tersebut…


Maksudnya, tunjuki kami ke jalan yang lurus adalah berpegang teguh pada agama Islam. Dan makna tunjuki kami di dalam jalan yang lurus adalah mencakup hidayah kepada semua perincian agama secara ilmu dan amal. Doa ini merupakan doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi hamba. Karenanya, wajib bagi seorang hamba untuk berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan doa ini di setiap rakaatnya…


Ada kalanya manusia mengira dirinya sudah mendapat hidayah sebagai orang baik sementara aslinya adalah orang yang selalu saja melakukan hal sesat dan menyesatkan. Manusia jenis ini adalah manusia yang tertipu dengan dirinya sendiri…

Sesungguhnya, andai dirinya mau jujur membaca dan mendengarkan suara hatinya sendiri, dia tahu akan niat busuknya, niat jeleknya. Namun karakter kesetanan dan kebinatangannya menutupi jalan hidayah ini sehingga dirinya tetap merasa sebagai yang benar…


Agar tak tertipu dengan diri kita sendiri, biasakanlah mendengarkan suara hati nurani sendiri dalam keheningan. Pikirkan dengan jernih dan tulus jujurlah. Rasulullah memerintahkan Wabishah untuk meminta fatwa pada dirinya sendiri, pada hatinya sendiri. Hati yang paling dalam itu sesungguhnya cinta damai, benar dan indah.
Bagaimana kalau perkataan kita dan perbuatan kita membuat orang lain dan sekeliling kita menjadi sedih, kecewa dan rusak? Kita bisa pastikan bahwa di situ ada yang salah. Mungkin saja salah niat, mungkin saja salah cara, mungkin saja salah waktu, mungkin juga salah tempat atau salah orang. Dibutuhkan peerenungan mendalam untuk menjadi bijak…

Seorang tamu yang masih kerabat mengunjungi saudarinya yang baru melahirkan. Dia bertanya kepada saudarinya itu: “Selamat melahirkan ya. Saya ikut senang. Dapat hadiah apa dari suamimu?” Saudarinya menjawab dengan menundukkan muka sambil berkata lirih bahwa tidak diberi hadiah apapun. Tamu itu bertanya lagi: “Masa sih tidak diberi hadiah apapun? Bukankah anak adalah bernilai? Bukankah melahirkan itu sebuah perjuangan?” Saudarinya semakin menunduk malu. Sang tamu berpamitan pulang, tak lama setelah itu.
Sang tamu tak merasa salah dengan kata-katanya. Memang benar bahwa melahirkan anak adalah anugerah, juga benar bahwa melahirkan adalah perjuangan. Tak ada yang salah, bukan? Kisah tak berhenti di sini. Sang suami datang, sang istri dingin dan mempertanyakan kepantasannya mendapatkan hadiah. Mereka bertengkar, kemudian sang suami menceraikannya. Siapakah yang paling bersalah?
Sungguh sang tamu itu termasuk minal mufsidin, pengrusak yang dibenci Allah Azza wa Jalla. Jangan biasa merusak kedamaian hati orang lain dengan cara bersembunyi di balik tampilan benar secara kata. Jangan mengandalkan kepandaian berkilah. Tanyakan pada hati kita, niat sesungguhnya apa dan bagaimana cara yang tepat untuk mengutarakan dan melaksanakannya. Menjadi bijak itu ternyata tidak mudah.


Marilah kita senantiasa memanjatkan doa sebagaimana doa yang sering dilantunkan Rasulullah adalah,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan pelindung segala urusanku. Perbaikilah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Perbaikilah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai istirahat bagiku dari segala keburukan.”

(HR. Muslim)

BAHAYA DOSA JARIYAH

Berhati-hatilah terhadap bahaya perbuatan dosa jariyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.”

(HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Berdasarkan hadits ini dapat kita pahami bahwa di samping ada pahala amal jariyah, dalam Islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu..


Betapa menyedihkannya nasib orang seperti ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa demi dosa. Kita bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini…


Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah Azza wa Jalla catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, Islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya. Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. wal’iyadzu billah, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini. Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini…

Kita bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain busana minim, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak mengajak khalayak untuk memakai busana minim, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun. Tak jauh beda dengan mereka yang memasang konten mengumbar aurat dan syahwat di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton dan terdorong melakukan zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang konten di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya. Termasuk juga orang yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lawan jenis yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak orang untuk memandanginya…


Kita bisa perhatikan orang-orang yang dengan sengaja menyebarkan informasi hoax yang sesat dan menyesatkan demi pencitraan, atau menyebarkan pemikiran dan menyerukan masyarakat untuk memusuhi kebenaran dan keadilan, mengancam yang haq, membela kebathilan dan kezaliman, hingga memunculkan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadist di tersebut. Sepanjang masih ada orang-orang sepemahaman yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan, kezaliman dan pengikut pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah. Termasuk juga mereka yang menyerukan kemaksiatan, kezaliman, memotivasi orang lain untuk berbuat maksiat dan zalim, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya…


Allah Azza wa Jalla berfirman,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُون

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan.”

(QS. an-Nahl: 25)

Pada ayat lain Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

(QS. Yasin: 12)