PERJUANGAN MERAIH HIDAYAH

Seorang Muslim dalam kehidupannya senantiasa membutuhkan hidayah dari Allah Azza wa Jalla untuk menjaga konsistensi keimananannya. Dimungkinkan paginya seorang beriman namun sore harinya ia menjadi kafir. Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir. Karena tak seorangpun beriman kecuali mendapat izin dari Allah Azza wa Jalla,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّه

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah.”

(QS. Yunus: 100)


Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Seorang muslim senantiasa berdoa di dalam shalatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

(QS. Al Fatihah: 6)

Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia. Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkan agar Allah Azza wa Jalla menghendakinya…

الله يهدي من يشاء

“Dan Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

(QS. An Nuur: 46)


“hidayah itu mahal”. Ya, hidayah memang mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya. Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”

(QS. Al An’am: 59)

Dalam masalah hidayah ini, Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian : Pertama, رَاشِدٌ (râsyid), yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Kedua, غَاوِيٌ (ghâwi), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya. Dan ketiga, ضّالٌّ (dhal), yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh. Setiap râsyid, dia mendapat petunjuk, dan setiap orang yang mendapat petunjuk secara sempurna maka ia dikatakan râsyid. Karena hidayah menjadi sempurna apabila seseorang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, tuntun kami dan tunjuki kami serta berikan kami taufik kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kita kepada Allah Azza wa Jalla dan surga-Nya. Jalan tersebut adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Maka, tunjuki kami kepada jalan yang lurus dan tunjuki kami di dalam jalan yang lurus tersebut…


Maksudnya, tunjuki kami ke jalan yang lurus adalah berpegang teguh pada agama Islam. Dan makna tunjuki kami di dalam jalan yang lurus adalah mencakup hidayah kepada semua perincian agama secara ilmu dan amal. Doa ini merupakan doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi hamba. Karenanya, wajib bagi seorang hamba untuk berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan doa ini di setiap rakaatnya…


Ada kalanya manusia mengira dirinya sudah mendapat hidayah sebagai orang baik sementara aslinya adalah orang yang selalu saja melakukan hal sesat dan menyesatkan. Manusia jenis ini adalah manusia yang tertipu dengan dirinya sendiri…

Sesungguhnya, andai dirinya mau jujur membaca dan mendengarkan suara hatinya sendiri, dia tahu akan niat busuknya, niat jeleknya. Namun karakter kesetanan dan kebinatangannya menutupi jalan hidayah ini sehingga dirinya tetap merasa sebagai yang benar…


Agar tak tertipu dengan diri kita sendiri, biasakanlah mendengarkan suara hati nurani sendiri dalam keheningan. Pikirkan dengan jernih dan tulus jujurlah. Rasulullah memerintahkan Wabishah untuk meminta fatwa pada dirinya sendiri, pada hatinya sendiri. Hati yang paling dalam itu sesungguhnya cinta damai, benar dan indah.
Bagaimana kalau perkataan kita dan perbuatan kita membuat orang lain dan sekeliling kita menjadi sedih, kecewa dan rusak? Kita bisa pastikan bahwa di situ ada yang salah. Mungkin saja salah niat, mungkin saja salah cara, mungkin saja salah waktu, mungkin juga salah tempat atau salah orang. Dibutuhkan peerenungan mendalam untuk menjadi bijak…

Seorang tamu yang masih kerabat mengunjungi saudarinya yang baru melahirkan. Dia bertanya kepada saudarinya itu: “Selamat melahirkan ya. Saya ikut senang. Dapat hadiah apa dari suamimu?” Saudarinya menjawab dengan menundukkan muka sambil berkata lirih bahwa tidak diberi hadiah apapun. Tamu itu bertanya lagi: “Masa sih tidak diberi hadiah apapun? Bukankah anak adalah bernilai? Bukankah melahirkan itu sebuah perjuangan?” Saudarinya semakin menunduk malu. Sang tamu berpamitan pulang, tak lama setelah itu.
Sang tamu tak merasa salah dengan kata-katanya. Memang benar bahwa melahirkan anak adalah anugerah, juga benar bahwa melahirkan adalah perjuangan. Tak ada yang salah, bukan? Kisah tak berhenti di sini. Sang suami datang, sang istri dingin dan mempertanyakan kepantasannya mendapatkan hadiah. Mereka bertengkar, kemudian sang suami menceraikannya. Siapakah yang paling bersalah?
Sungguh sang tamu itu termasuk minal mufsidin, pengrusak yang dibenci Allah Azza wa Jalla. Jangan biasa merusak kedamaian hati orang lain dengan cara bersembunyi di balik tampilan benar secara kata. Jangan mengandalkan kepandaian berkilah. Tanyakan pada hati kita, niat sesungguhnya apa dan bagaimana cara yang tepat untuk mengutarakan dan melaksanakannya. Menjadi bijak itu ternyata tidak mudah.


Marilah kita senantiasa memanjatkan doa sebagaimana doa yang sering dilantunkan Rasulullah adalah,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan pelindung segala urusanku. Perbaikilah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Perbaikilah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai istirahat bagiku dari segala keburukan.”

(HR. Muslim)

BAHAYA DOSA JARIYAH

Berhati-hatilah terhadap bahaya perbuatan dosa jariyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.”

(HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Berdasarkan hadits ini dapat kita pahami bahwa di samping ada pahala amal jariyah, dalam Islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu..


Betapa menyedihkannya nasib orang seperti ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa demi dosa. Kita bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini…


Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah Azza wa Jalla catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, Islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya. Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. wal’iyadzu billah, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini. Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini…

Kita bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain busana minim, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak mengajak khalayak untuk memakai busana minim, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun. Tak jauh beda dengan mereka yang memasang konten mengumbar aurat dan syahwat di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton dan terdorong melakukan zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang konten di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya. Termasuk juga orang yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lawan jenis yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak orang untuk memandanginya…


Kita bisa perhatikan orang-orang yang dengan sengaja menyebarkan informasi hoax yang sesat dan menyesatkan demi pencitraan, atau menyebarkan pemikiran dan menyerukan masyarakat untuk memusuhi kebenaran dan keadilan, mengancam yang haq, membela kebathilan dan kezaliman, hingga memunculkan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadist di tersebut. Sepanjang masih ada orang-orang sepemahaman yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan, kezaliman dan pengikut pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah. Termasuk juga mereka yang menyerukan kemaksiatan, kezaliman, memotivasi orang lain untuk berbuat maksiat dan zalim, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya…


Allah Azza wa Jalla berfirman,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُون

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan.”

(QS. an-Nahl: 25)

Pada ayat lain Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

(QS. Yasin: 12)

BERLAKU ADIL DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN

Jika kesendirian dapat membuat kita senantiasa menjadi lebih baik, dapat membuat kita lebih dekat dengan Allah Azza wa Jalla, maka kesendirian itu lebih baik daripada berkumpul banyak orang tapi penuh dengan ketidak baikkan…

Jika kekurangan harta, kemiskinan, tidak memiliki gelar, jabatan dan kekuasaan membuat kita senantiasa bersyukur kepada-Nya, senantiasa mengingat nama-Nya, maka kemiskinanan, tidak adanya gelar, jabatan dan kekuasaan itu lebih baik daripada kekayaan, gelar, jabatan dan kekuasaan yang membuat kita lupa kepada Allah Azza, berperilaku sombong, berbuat semena-mena dan zalim terhadap hamba-hamba-Nya…


Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

(QS. An Nisa: 135)

Pada ayat yang lain Allah Azza Jalla juga berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(QS. An Nisa: 58)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda bahwa ada tujuh golongan orang yang akan diberikan naungan perlindungan di akhirat,

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,” Ada tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

(HR Bukhari Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ وَقُلْ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)”.

(QS. Asy Syuura: 15)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam juga telah memerintahkan untuk berbuat adil karena orang yang adil adalah orang yang mendapatkan keberuntungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

“sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah akan berada di pundak cahaya di sebelah kanannya, yaitu orang yang adil adalah mereka yang berlaku adil dalam mengambil keputusan hukum dan berlaku adil terhadap sesuatu yang diamanatkan kepadanya.”

(H.R. Muslim)


Sesungguhnya hidup hanya perihal beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, karena manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan tidak terlepas dari berharap ridha-Nya, baik itu perkerjaan yang menghasilkan nafkah yang halal, ikhtiar mendapatkan pasangan yang terbaik dari-Nya. Segalanya harus dari-Nya dan diniatkan hanya untuk mendapatkan ridha-Nya…

Karena jika Allah Azza wa Jalla yang menjadi tujuan kita maka tenanglah hati dan jiwa ini menjalani setiap pahit manisnya kehidupan…

JANGAN MENYIA-NYIAKAN WAKTU

Ulama pada masa dahulu begitu sedih jika semakin hari terus dilewati, di mana ajal semakin dekat. Bahkan mereka para salaf sampai bersedih jika waktunya berlalu tanpa amal shaleh. Yang mereka terus pikirkan adalah ajal yang semakin dekat, namun amal shaleh yang masih kurang. Menunggu satu waktu saja tanpa amalan, itu sudah membuang-buang waktu. Karena ingatlah saudaraku bahwa waktu itu amat berharga bagi seorang muslim. Jika ia benar-benar menjaganya dalam ketaatan pada Allah Azza wa Jalla atau dalam hal yang bermanfaat, itu menunjukkan kebaikan dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”

(HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan pula perkara yang haram, yang syubhat dan perkara yang makruh, begitu pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang muslim. Demikian perkataan Ibnu Rajab Al Hambali yang kami olah secara bebas

(Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 289).

Jika kita menyia-nyiakan waktu, itu tanda Allah melupakan kita. ‘Arif Al Yamani berkata,

إن من إعراض الله عن العبد أن يشغله بما لا ينفعه

“Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia.”

(Hilyatul Awliya’, 10: 134)

Waktu adalah amat berharga, wahai saudaraku. Ia tidak mungkin kan kembali setelah berlalu pergi,

الوقت أنفاس لا تعود

“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”

Syaikh ‘Abdul Malik Al Qasim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.”

(Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hlm. 3)


Tanda waktu itu begitu berharga bagi seorang muslim karena kelak ia akan ditanya, di mana waktu tersebut dihabiskan,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.”

(HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggu-nunggu pergantian waktu, itu sebenarnya lebih parah dari kematian. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawa-id berkata,

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا

“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Imam Syafi’i pernah mendapat nasehat dari seorang sufi,

الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

(Lihat Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 3: 129)

Basyr bin Al Harits berkata,

مررت برجل من العُبَّاد بالبصرة وهو يبكي فقلت ما يُبكيك فقال أبكي على ما فرطت من عمري وعلى يومٍ مضى من أجلي لم يتبين فيه عملي

“Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di Bashrah dan ia sedang menangis. Aku bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena usia yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku.”

(Mujalasah wa Jawahir Al ‘Ilm, 1: 46, Asy Syamilah)


Sebagian orang kegirangan jikalau ia diberi waktu yang panjang di dunia. Bahkan inilah harapan ketika nyawanya telah dicabut, ia ingin kembali di dunia untuk dipanjangkan usianya supaya bisa beramal shaleh. Orang-orang seperti inilah yang menyesal di akhirat kelak, semoga kita tidak termasuk orang-orang semacam itu. Allah Azza wa Jalla berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”

(QS. Al Mu’minun: 99-100).

Ketika orang kafir masuk ke neraka, mereka berharap keluar dan kembali ke dunia dan dipanjangkan usia supaya mereka bisa beramal. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”

(QS. Fathir: 37).

Dalam ayat lainnya disebutkan pula,

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shaleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”

(QS. As Sajdah: 12)

وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”

(QS. Asy Syura: 44)

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

“Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

(QS. Ghafir: 11-12)

Qotadah mengatakan, “Beramallah karena usia yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari menyia-nyiakan usia yang panjang dalam hal yang sia-sia.”

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553, pada tafsir surat Fathir ayat 37)


Renungkanlah bahwa sebenarnya tidak ada penambahan usia, yang ada hanyalah usia yang semakin berkurang. Mengapa kita selalu berpikir bahwa usia kita bertambah, namun tidak memikirkan ajal semakin dekat? Benar kata Al Hasan Al Bashri, seorang tabi’in terkemuka yang menasehati kita agar bisa merenungkan bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti berkurangnya usia kita setiap saat…

Hasan Al Bashri mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”

(Hilyatul Awliya’, 2: 148)

Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata,

لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار ، وتقريبِ الآجال

“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan usia pun berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383).

Semisal perkataan Al Hasan Al Bashri juga dikatakan oleh Al Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau rahimahullah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti setelah 60 tahun, engkau akan menghadap Rabbmu.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi raaji’un.” “Apa engkau tidak memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah sesungguhnya kita adalah hamba yang akan kembali pada Allah Azza wa Jalla. Siapa yang yakin dia adalah hamba Allah Azza wa Jalla, maka ia pasti akan kembali pada-Nya. Jadi pada Allah Azza wa Jalla-lah tempat terakhir kita kembali. Jika tahu kita akan kembali pada Allah Azza wa Jalla, maka pasti kita akan ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut.”

(Lihat percakapan Fudhail ini dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383)


Seharusnya yang kita rasakan adalah usia kita semakin bertambah tapi hakikatnya semakin berkurang, lalu kita renungkan bagaimanakah amal shaleh kita selama hidup ini? Sudahkah cukup untuk bekal kita di akhirat?


Islam telah mengajarkan kepada kita agar jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Bukhari no. 6416)

Hadits ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak akan lama..

‘Aun bin ‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa esok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari esok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.” ‘Aun juga berkata,

إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره

“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385)


Setelah kita merenungkan berbagai nasehat di atas, semoga kita bisa menyadari bahwa waktu itu begitu berharga walau 1 detik saja. Seharusnya yang dipikirkan adalah bagaimana upaya kita seiring bertambahnya usia, semakin berkurang dari detik demi detik terus berlalu, sehingga seharusnya amal shaleh yang semakin kita tingkatkan dan semakin menjauhi perbuatan dosa…

SEBESAR-BESAR KHIANAT

Amanah ialah segala nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita. Dari mulai alat badani yang melekat pada diri kita, seperti alat penglihatan, alat pendengaran, alat perasa, tangan, kaki, lisan, dan akal pikiran. Demikian juga nikmat berupa harta benda, jabatan, kekuasaan dan lain sebagainya adalah amanah yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita yang harus dijaga…

Islam telah memerintahkan agar setiap orang menjaga dan menunaikan amanah itu secara maksimal, bersamaan dengan itu Islam juga telah berpesan dengan sangat supaya tidak berkhianat dan jangan menyia-nyiakan amanah sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, padahal kamu mengetahui.”

(QS. Al Anfal: 27)


Sebesar-besar khianat adalah mempercayakan suatu urusan penting kepada yang tidak memiliki kapasitas untuk mengelola urusan tersebut. Seperti menyerahkan urusan umat, rakyat dan negara kepada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa jika bukan ahlinya yang mengelola, tunggulah kehancuran tiba…

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radadhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat”. Dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu!”

(HR. Al Bukhari)


Suatu hari, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan fenomena akhir zaman yang pernah didengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.”

(HR. Hakim)

Hadits ini menunjukkan bahwa saat nilai sudah tumpang tindih dan tak begitu diindahkan: orang bohong dianggap jujur; orang jujur dianggap bohong; pengkhianat dianggap amanah; orang amanah dianggap pengkhianat. Di situlah muncul zaman Ruwaibidhah, yang dijelaskan nabi sebagai orang bodoh (pandir, dungu) tapi mengurusi orang umum…

Secara bahasa, Al-Jauhari berkata bahwa, Ruwaibidhah adalah orang yang bodoh dan hina.” Sementara Ibnu Atsir selain keduanya menambahkan kata khasiis (buruk, rendah dan keji). Secara bahasa masih menurut Ibnu Atsir- kata Ruwaibidhah adalah bentuk tashghir (ungkapan kecil) dari kata Rabidhah yaitu orang lemah (bodoh) yang mengurusi urusan-urusan penting di ranah publik. Tambahan kata “ta marbutha” di akhirnya untuk menambahkan tekanannya.
Dalam hadits-hadits yang semakna selain riwayat Abu Hurairah seperti: Anas bin Malik dan Auf bin Malik- setidaknya ada tujuh ciri yang mensifati Ruwaibidhah
Pertama, orang bodoh yang membicarakan urusan publik.
Kedua, orang rendahan.
Ketiga, orang fuwaisiq (fasik hina) yang berbicara urusan publik.
Keempat, orang fasik berbicara urusan umum.
Kelima, rendah, tidak dihiraukan (tak teranggap).
Keenam, orang bodoh yang berbicara urusan orang banyak.
Ketujuh, orang hina di kalangan masyarakat…

Dari beberapa ciri tersebut, mengandung subtansi yang sama: orang rendahan, bodoh dan hina, tidak mengerti ilmu mengurusi urusan publik (seperti: menjadi pejabat, penguasa dan lain sebagainya) tapi diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membicarakan atau mengurusi masalah orang umum. Ini gambaran jelas bahwa sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya. Sehingga, akan berdampak negatif secara sosial.
Hadits lain yang menyiratkan makna yang sama (penyerahan urusan kepada yang bukan ahlinya) misalnya:

وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

“Bila orang yang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimpin manusia. Itulah salah satu tanda-tandanya.”

(HR. Muslim)


Jika ada orang yang sebenarnya rendah dan tak mengerti ilmunya kemudian dijadikan pemimpin oleh kebanyakan orang maka itu adalah salah satu tanda-tanda kiamat. Ada juga hadits lain yang semakin menguatkan fenomena Ruwaibidhah di akhir zaman,

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat.”

(HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى

“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”

(HR. Bukhari, 6015)

Sungguh benarlah ucapan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam di atas. “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Amanah yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya…


Sudah sepatutnya kita meletakkan segala sesuatu pada tempat-tempatnya…

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

(QS. Al-‘Ankabuut: 43)

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

”Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

(QS. Ar-Ruum: 22)

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

(QS. Faathir: 28)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujaadalah: 11)


Hadits Abu Hurairah di dalam Shahih Bukhari dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (disebutkan): bahwa beliau pernah ditanya: kapan hari kiamat? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

إِذَا وُسِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”.

SALING MENASIHATI DALAM KEBAIKAN

Pemberian paling berharga dari seseorang untuk saudaranya yang tidak bisa dinilai dengan emas dan perak adalah nasihat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Sebab, nasihat merupakan urusan yang paling pokok di dalam agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.”

(HR. Muslim dari Tamim ad-Dari radhiallahu ‘anhu)

Upaya saling menasihati dalam kebaikan merupakan salah satu jalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kerugian dunia dan akhiratnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

(QS. Al-‘Ashr: 1 – 3)

Sikap saling meminta dan saling memberi nasihat adalah interaksi kemasyarakatan kaum muslimin yang dianjurkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menyebutkan enam perkara yang merupakan hak dan kewajiban seorang muslim atas saudaranya,

فَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ أَخُوكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu meminta nasihatmu, berilah nasihat untuknya.”

(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)


Sudah tidak asing bagi kita tentang keutamaan menyampaikan nasihat, karena nasihat adalah salah satu bentuk perwujudan amar ma’ruf nahi munkar. Nasihat yang benar, yang dibangun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah, wajib didengar dan diterima, karena nasihat tersebut adalah agama dan pemberian yang sangat berharga dari saudara kita…

Orang yang menerima nasihat berarti dia telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan kerugian. Sebaliknya, orang yang menolak nasihat berarti dia telah menghadapkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan, sebagaimana yang dialami oleh umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah Azza wa Jalla ketika menolak nasihat dari para nabi. Contohnya ialah kaum Tsamud ketika menolak nasihat Nabi Shalih ‘alaihissalam.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٧٨ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ٧٩

“Lalu datanglah goncangan gempa menimpa mereka sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah mereka. Nabi Shalih pun pergi berpaling meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku telah sampaikan risalah dari Rabbku. Aku telah berusaha untuk menyampaikan nasihatku kepada kalian. Namun, kalian tidak menyukai orang yang memberi nasihat.”

(QS. Al-A’raf: 78 – 79)


Di dalam ayat tersebut, terdapat anjuran untuk mencintai nasihat dan mencintai para pemberi nasihat. Semoga Allah Azza wa Jalla membuka hati kita sehingga diberi kelapangan dada untuk menerima nasihat kebenaran, karena hal itu merupakan tanda keimanan,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Sungguh demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan dirimu (Nabi Muhammad) sebagai penengah dari apa yang mereka perselisihkan. Kemudian, tidaklah ada keberatan di hati mereka untuk menerima apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.”

(QS. An-Nisa’: 65)

Semoga Allah Azza wa Jalla memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat petujuk,

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٨

“Orang-orang yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah Azza wa Jalla dan mereka itulah orang yang memiliki akal sehat.”

(QS. Az-Zumar: 18)


Hendaknya kita memperbanyak berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar dikaruniai hidayah dan taufik sehingga kita mudah menerima nasihat dan kebenaran. Di antara faktor yang menghalangi seseorang menerima nasihat adalah tidak mendapatkan taufik dari-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi, Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. Al-Qashash: 56)

Sepantasnya pula kita sering memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla dari tipu daya syaitan yang senantiasa berusaha menghalangi manusia dari nasihat dan kebenaran. Sebab, Iblis telah menyatakan sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla firmankan dalam al-Qur’an,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih.”

(QS. Shad: 82 – 83)

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦

Iblis berkata, “Karena Engkau (Allah) telah menyesatkanku, aku pasti akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.”

(QS. Al-A’raf: 16)


Hendaknya pula kita senantiasa mengendalikan hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu sangat kuat berperan dalam menghalangi seseorang untuk menerima nasihat.

إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣

“Sesungguhnya hawa nafsu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Rabbku.”

(QS. Yusuf: 53)


Jauhilah sikap sombong dan angkuh, karena kesombongan menyebabkan seseorang menolak nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ … الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Seseorang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan sebesar biji sawi tidak akan masuk surga…. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang.”

(HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)


Hasad (iri, dengki) juga merupakan faktor penghalang seseorang untuk menerima nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Tinggalkanlah hasad (sifat iri), karena hasad akan memakan kebaikan-kebaikan seperti api melahap kayu bakar.”

Di antara faktor yang membantu seseorang mudah menerima nasihat adalah sifat jujur. Sebaliknya, dusta adalah sebab yang menyulitkan seseorang menerima nasihat dan kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

… عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Hendaknya kalian bersikap jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa ke surga…”

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Tinggalkanlah kedustaan, karena dusta akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)


Oleh karena itu, senantiasa perbanyaklah membaca doa sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِ وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami bahwa kebenaran itu kebenaran, dan berilah rezeki kepada kami untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kebathilan itu kebathilan, dan berilah rezeki kepada kami untuk menjauhinya.”

MENGGENGGAM BARA API

Pada akhir zaman akan semakin sedikit kebaikan, semakin banyak kebathilan dan kemungkaran, semakin banyak yang menentang kebenaran, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat yang berujung pada keraguan dalam beramal dan pada akhirnya ingin melepaskannya…

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang suatu masa, di mana orang yang bersabar, berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api”

(HR. At-Tirmidzi no. 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 8002)


Di dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, kita diperintahkan untuk tetap istiqamah senantiasa bersabar melakukan segala sesuatunya di atas kebenaran…


Akan kita temui suatu masa di mana banyak muncul para pendusta kebenaran. Para pendusta kebenaran itu tidak pernah merasa salah dan selalu pandai beralasan, karena segala alasannya hanyalah untuk menutupi, melindungi, membela dan membenarkan dusta-dusta sebelumnya dan berikutnya.

Para pendusta itu tidak akan pernah menepati janji dan selalu ingkar janji, bahkan sumpah di bawah kitab suci dengan menyebut Asma Allah Azza wa Jalla saja dilanggar apalagi kepada sesama manusia…


Para pendusta itu tidak akan pernah berhenti dari berbuat dan berbicara dusta kecuali ajal menjemputnya. Allah Azza wa Jalla berfiman,

فَاَ عْقَبَهُمْ نِفَا قًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَاۤ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَا نُوْا يَكْذِبُوْنَ

“Maka, Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”

(QS. At-Taubah: 77)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

كَذٰلِكَ سَلَكْنٰهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمُجْرِمِيْنَ ۗ 

“Demikianlah, Kami masukkan (sifat dusta dan ingkar) ke dalam hati orang-orang yang berdosa.”

(QS. Asy-Syu’ara’: 200)


Menjadi benar itu penting, namun merasa benar itu tidak baik. Kearifan akan membuat seorang menjadi benar, tetapi bukan merasa benar

Orang benar, tidak akan berpikiran bahwa ia adalah yang paling benar. Sebaliknya orang yang merasa benar, di dalam pikirannya hanya dirinyalah yang paling  benar

Orang benar bisa menyadari kesalahannya. Sedangkan orang yang merasa benar, merasa tidak perlu untuk mengaku salah


Orang benar setiap saat akan introspeksi diri dan bersikap rendah hati. Tetapi orang yang merasa benar merasa tidak perlu introspeksi,  jarena merasa paling benar, mereka cenderung tinggi hati


Orang benar memiliki kelembutan hati. Ia dapat menerima masukan dan kritikan dari siapa saja, sekalipun itu dari anak kecil Orang yang merasa benar, hatinya keras Ia sulit untuk  menerima nasehat dan masukan apalagi kritikan


Orang benar akan selalu menjaga perkataan dan perilakunya, serta berucap penuh kehati-hatian. Orang yang merasa benar berpikir, berkata, dan berbuat sekehendak hatinya, tanpa pertimbangan atau mempedulikan perasaan orang lain

Pada akhirnya, orang benar akan dihormati, dicintai dan disegani oleh hampir semua orang. Sedangkan orang yang merasa benar sendiri hanya akan disanjung oleh mereka yang berpikiran sempit, dan yang sepemikiran dengannya, atau mereka yang hanya sekedar ingin memanfaatkan dirinya


Marilah kita terus memperbaiki diri untuk bisa menjadi benar, agar tidak selalu merasa benar. Bila kita sudah termasuk tipe orang benar, tetaplah istiqamah dalam kebenaran dan selalu rendah hati…


Tidak ada yang mesti dikhawatirkan bila diri kita selalu berada pada jalan kebenaran, bila diri kita selalu berada pada kepasrahan dan ketundukan di mana Allah Azza wa Jalla selalu akan hadir dengan pertolongan sebagai janji dan jaminan kepada hamba-Nya yang senantiasa membiasakan melakukan amalan-amalan dengan bersabar di atas kebenaran…


Amalan yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah amalan yang teguh dan istiqamah, oleh karena itu pelihara dan jaga selagi kita bisa untuk terus berada dalam kebenaran, keteguhan dan ketaatan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Fushilat: 30-32)


Istiqamah dalam kebebaran, ketaatan dan kebaikan pada hakikatnya untuk dirinya sendiri pahala keutamaannya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang shaleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Jatsiyah: 15)

MENEBAR KEBERMANFAATAN

Menjadi yang terbaik itu seringkali terlihat sulit, karena kita kerap terjebak memikirkan apa yang belum mampu kita lakukan. Jebakan yang menghadirkan keraguan sampai takut melangkah untuk menjadi berbeda dengan yang lain dan menang. Menjadilah yang terbaik di antara yang terbanyak, karena yang terbanyak belum tentu terbaik. Menjadi diri sendiri seutuhnya dan memberikan yang terbaik untuk yang lain adalah sebaik-baiknya manusia. Manusia yang paling banyak menebar kebermanfaatan bagi manusia lainnya,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662)

Berikanlah kebaikan itu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki tanpa harus menunda-nunda, karena yang terbaik adalah yang bisa kita berikan saat ini juga. Menjadikan yang sedikit lebih baik daripada menunda-nunda kebaikan yang besar…


Menjadi manusia yang terbaik adalah yang paling bagus akhlaknya,

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.”

(HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr. Ini lafaz Bukhari)

Maka jagalah senantiasa akhlak kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai akhlak kita terdegradasi oleh gempuran godaan syahwat duniawi…


Menjadi manusia yang terbaik adalah mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.”

(HR. Bukhari No. 5027, dari Utsman)


Memang untuk menjadi yang terbaik, jalan apapun bisa ditempuh. Entah itu jalan yang benar ataupun jalan yang menyesatkan. Mulai dari yang jujur seperti berusaha meningkatkan kualitas diri tanpa kelicikan, keculasan dan kecurangan. Kita lihat dari sisi positifnya, menjadi yang terbaik itu perlu usaha, perjuangan, pengorbanan dan yang utama ridha Allah Azza wa Jalla. ada yang mudah didapat hanya dengan sedikit usaha ada yang sulit didapat dan menuntut usaha yang keras. Jika didapat melalui cara-cara salah, licik, culas, curang, apa lagi menghalalkan segala cara, tidak hanya menjadikan itu sebagai perbuatan dosa, tapi jika suatu ketika terbongkar akan mencoreng kehormatan sendiri. Terkadang hukum masyarakat itu lebih kejam dari hukum tertulis. sedikit saja tercoreng hitam di wajah, image seseorang akan luntur. Terlebih jika ia menjadi seorang pemimpin tidak amanah dan justru khianat, tidak ada yang akan percaya lagi…


Sekalipun tidak terbongkar kelicikan, keculasan dan kecurangannya di dunia saat ini, ingatlah bahwa hukum akhirat menanti…


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

« لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ »

“Tidaklah lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sehingga lurus lisannya.”

(HR Ahmad dan al-Baihaqi).


Hati-hatilah terhadap para kaum pendusta, karena mereka senantiasa mengingkari kebenaran…

‏قَال شيخالإسلام – رَحمهُ الله -:

“فَـإن ّالإنسَان قَـد يَعرف
أَن ّالحَـقّ مَـع غَيـره
ومَع هَذا يجـحَد ذلِك
لحَسَـده إيّـاه أو لطلَب علُوّه
عَليـْه أو لِهَوى النّفـس”.

[مَجمُوع الفتَاوى:١٩١/٧]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

“Kadang seseorang mengetahui bahwa kebenaran ada pada pihak yang lain, namun dia mengingkari kebenaran itu, disebabkan:

  1. Hasad kepadanya,
  2. Ingin lebih unggul darinya, atau
  3. Karena hawa nafsunya.”

(Majmu’ Fatawa 7/191).


Kita harus berihtiar untuk senantiasa mengikuti kebenaran, menjauhkan diri dari para kaum pendusta kebenaran dalam situasi apapun dan dalam kondisi bagaimanapun…

▫️وقال ابن المعتز :

” اجتنِبْ مصاحبة الكذاب ، فإن اضطررت إليه فلا تصدّقه ، ولا تُعلِمه أنك تكذبه ، فينتقل عن وده ، ولا ينتقل عن طبعه … “.

زهر الآداب: [٣٨٧/١]

▪️قال الحسن بن سهل :

” الكذاب لِصّ ؛ لأن اللص يسرقُ مالك ، والكذاب يسرقُ عقلك ؛ ولا تأمن مَنْ كذب لك ، أنْ يَكذِب عليك ، ومن اغتاب غيرَك عندك ، فلا تأمَنْ أن يغتابَك عند غيرك “. انتهى .

زهر الآداب: [٣٨٦/١]

Berkata Ibnul Mu’taz :

“Jauhkan diri dari berteman dengan pendusta, dan jika engkau sangat butuh kepadanya maka jangan engkau mempercayainya, dan jangan engkau tunjukkan bahwa dirimu mendustakannya, sehingga akan berpindah menjadi mencintainya, dan tidak akan lepas dari tabiatnya…”

(Zahrul Adab, 1/387)

SENANTIASA KHOUF DAN ROJA’

Pada situasi sulit yang tidak menentu seperti sekarang ini setiap hamba Allah Azza wa Jalla sudah semestinya senantiasa mengharap mendapatkan rahmat-Nya dan takut mendapatkan siksa-Nya,

عَنْ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ . (أخرجه الترمذي وسنده حسن)

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi ﷺ datang kepada seorang pemuda yang hendak meninggal, maka beliau berkata: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat berharap kepada (rahmat) Allah dan saya sangat takut akan (siksa Allah) atas dosa-dosa saya.” Maka Rasulullah ﷺ berkata: “Tidaklah dua perkara tersebut ada pada hati seorang hamba yang dalam kadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan akan Allah amankan ia dari apa yang ditakutkannya.”

(Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan sanadnya hasan, juga Imam Ibnu Majah dan Imam Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawa’id Az-Zuhd hlm. 34-35, juga Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana dalam At-Targhib 4/141, dan lihat juga dalam Al-Misykah nya 1612)


Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan berharap adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla), maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia menghapuskan (mengampuni), dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan (kepada-Nya), dia berharap agar Allah Azza wa Jalla menerimanya.”


Adapun orang yang bergelimang dalam kemaksiatan dan kezaliman kemudian dia berharap Allah Azza wa Jalla tidak menyiksanya pada hari kiamat, tanpa ada rasa penyesalan dan kesadaran untuk meninggalkan perbuatan maksiat dan zalim, tanpa melakukan taubat yang benar kepada Allah Azza wa Jalla, maka ini adalah orang yang tertipu oleh bujuk rayu syaitan…

Maka khouf dan roja’ harus senantiasa ada pada seseorang hamba maka akan sampai kepada cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla…


Dua sifat inilah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah Azza wa Jalla yang paling mulia di sisi-Nya, yaitu khouf dan roja’, para Nabi dan Rasul ﷺ , sehingga Allah Azza wa Jalla memuji mereka dalam firman-Nya;

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ۞

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka selalu berdo’a kepada Kami dengan (perasaan), harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘.”

(QS. Al-Anbiyaa’: 90)

Karena itulah Al-Hasan Al-Basri rahimahullah pernah mengatakan bahwa orang mukmin mengerjakan amal-amal ketaatan, sedangkan hatinya dalam keadaan takut, bergetar, dan khawatir; sementara orang yang durhaka mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat dengan penuh rasa aman. Maka orang yang merasa aman dari siksa Allah Azza wa Jalla termasuk orang yang rugi;

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ۞

“Patutkah mereka bersukaria sehingga mereka merasa aman akan rancangan buruk (balasan azab), yang diatur oleh Allah Azza wa Jalla? Karena sebenarnya tidak ada yang merasa aman dari rancangan buruk (balasan azab), yang diatur oleh Allah Azza wa Jalla itu melainkan orang-orang yang rugi.”

(QS. Al-A’raf: 99)


Orang yang  terlalu berat khouf (takut), tanpa ada roja’ (harapan) maka bisa putus asa. Padahal putus asa adalah sifat orang kafir;

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ۞

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah.
Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir.”

(QS. Yusuf: 87)


Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“صبرا جميلا ما أقرب الفرجا..     
 
“Bersabarlah yang baik maka kelapangan itu begitu dekat.

من راقب الله في الأمور نجا..

Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dalam urusannya maka dia pasti akan selamat.

من صدق الله لم ينله أذى..

Barang siapa yang yakin dengan Allah Azza wa Jalla, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.

و من رجاه يكون حيث رجا..”

Barangsiapa berharap kepada Allah Azza wa Jalla maka Allah Azza wa Jalla pasti akan memberi pertolongan.”

(Kitab Tafsir Ibnu Katsir 8/432)


Seringkali Allah Azza wa Jalla berkehendak pada detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hamba-Nya. Jangan kita berkecil hati saat sepertinya belum ada jawaban atas doa-doa kita. Karena kadang kala Allah Azza wa Jalla mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak suka…

Allah Azza wa Jalla memberi kepada kita segala apa yang kita butuhkan, bukan kepada segala apa yang kita inginkan. Karena Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita…


Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, semoga situasi dan kondisi sulit seperti yang tengah kita alami sekarang ini sebagai penghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan,

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ما يصيب المسلم من نصب لا وصب ولا هم ولا خزن ولا اذي ولا غم حتي الشوكة يشاكها الا كفر الله بها من خطاياه.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Tidak ada yang menimpa seorang muslim berupa keletihan, sakit, kegalauan, sedih, menyakitkan, stres, hingga duri yang menusuk tubuhnya, melainkan dengan semua (musibah) tersebut Allah hapuskan semua dosa dosanya”.

( HR. Bukhari ).