SENANTIASA KHOUF DAN ROJA’

Pada situasi sulit yang tidak menentu seperti sekarang ini setiap hamba Allah Azza wa Jalla sudah semestinya senantiasa mengharap mendapatkan rahmat-Nya dan takut mendapatkan siksa-Nya,

عَنْ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ . (أخرجه الترمذي وسنده حسن)

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi ﷺ datang kepada seorang pemuda yang hendak meninggal, maka beliau berkata: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat berharap kepada (rahmat) Allah dan saya sangat takut akan (siksa Allah) atas dosa-dosa saya.” Maka Rasulullah ﷺ berkata: “Tidaklah dua perkara tersebut ada pada hati seorang hamba yang dalam kadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan akan Allah amankan ia dari apa yang ditakutkannya.”

(Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan sanadnya hasan, juga Imam Ibnu Majah dan Imam Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawa’id Az-Zuhd hlm. 34-35, juga Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana dalam At-Targhib 4/141, dan lihat juga dalam Al-Misykah nya 1612)


Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan berharap adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla), maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia menghapuskan (mengampuni), dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan (kepada-Nya), dia berharap agar Allah Azza wa Jalla menerimanya.”


Adapun orang yang bergelimang dalam kemaksiatan dan kezaliman kemudian dia berharap Allah Azza wa Jalla tidak menyiksanya pada hari kiamat, tanpa ada rasa penyesalan dan kesadaran untuk meninggalkan perbuatan maksiat dan zalim, tanpa melakukan taubat yang benar kepada Allah Azza wa Jalla, maka ini adalah orang yang tertipu oleh bujuk rayu syaitan…

Maka khouf dan roja’ harus senantiasa ada pada seseorang hamba maka akan sampai kepada cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla…


Dua sifat inilah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah Azza wa Jalla yang paling mulia di sisi-Nya, yaitu khouf dan roja’, para Nabi dan Rasul ﷺ , sehingga Allah Azza wa Jalla memuji mereka dalam firman-Nya;

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ۞

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka selalu berdo’a kepada Kami dengan (perasaan), harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘.”

(QS. Al-Anbiyaa’: 90)

Karena itulah Al-Hasan Al-Basri rahimahullah pernah mengatakan bahwa orang mukmin mengerjakan amal-amal ketaatan, sedangkan hatinya dalam keadaan takut, bergetar, dan khawatir; sementara orang yang durhaka mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat dengan penuh rasa aman. Maka orang yang merasa aman dari siksa Allah Azza wa Jalla termasuk orang yang rugi;

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ۞

“Patutkah mereka bersukaria sehingga mereka merasa aman akan rancangan buruk (balasan azab), yang diatur oleh Allah Azza wa Jalla? Karena sebenarnya tidak ada yang merasa aman dari rancangan buruk (balasan azab), yang diatur oleh Allah Azza wa Jalla itu melainkan orang-orang yang rugi.”

(QS. Al-A’raf: 99)


Orang yang  terlalu berat khouf (takut), tanpa ada roja’ (harapan) maka bisa putus asa. Padahal putus asa adalah sifat orang kafir;

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ۞

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah.
Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir.”

(QS. Yusuf: 87)


Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“صبرا جميلا ما أقرب الفرجا..     
 
“Bersabarlah yang baik maka kelapangan itu begitu dekat.

من راقب الله في الأمور نجا..

Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dalam urusannya maka dia pasti akan selamat.

من صدق الله لم ينله أذى..

Barang siapa yang yakin dengan Allah Azza wa Jalla, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.

و من رجاه يكون حيث رجا..”

Barangsiapa berharap kepada Allah Azza wa Jalla maka Allah Azza wa Jalla pasti akan memberi pertolongan.”

(Kitab Tafsir Ibnu Katsir 8/432)


Seringkali Allah Azza wa Jalla berkehendak pada detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hamba-Nya. Jangan kita berkecil hati saat sepertinya belum ada jawaban atas doa-doa kita. Karena kadang kala Allah Azza wa Jalla mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak suka…

Allah Azza wa Jalla memberi kepada kita segala apa yang kita butuhkan, bukan kepada segala apa yang kita inginkan. Karena Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita…


Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, semoga situasi dan kondisi sulit seperti yang tengah kita alami sekarang ini sebagai penghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan,

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ما يصيب المسلم من نصب لا وصب ولا هم ولا خزن ولا اذي ولا غم حتي الشوكة يشاكها الا كفر الله بها من خطاياه.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Tidak ada yang menimpa seorang muslim berupa keletihan, sakit, kegalauan, sedih, menyakitkan, stres, hingga duri yang menusuk tubuhnya, melainkan dengan semua (musibah) tersebut Allah hapuskan semua dosa dosanya”.

( HR. Bukhari ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *