MENGGENGGAM BARA API

Pada akhir zaman akan semakin sedikit kebaikan, semakin banyak kebathilan dan kemungkaran, semakin banyak yang menentang kebenaran, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat yang berujung pada keraguan dalam beramal dan pada akhirnya ingin melepaskannya…

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang suatu masa, di mana orang yang bersabar, berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api”

(HR. At-Tirmidzi no. 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 8002)


Di dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, kita diperintahkan untuk tetap istiqamah senantiasa bersabar melakukan segala sesuatunya di atas kebenaran…


Akan kita temui suatu masa di mana banyak muncul para pendusta kebenaran. Para pendusta kebenaran itu tidak pernah merasa salah dan selalu pandai beralasan, karena segala alasannya hanyalah untuk menutupi, melindungi, membela dan membenarkan dusta-dusta sebelumnya dan berikutnya.

Para pendusta itu tidak akan pernah menepati janji dan selalu ingkar janji, bahkan sumpah di bawah kitab suci dengan menyebut Asma Allah Azza wa Jalla saja dilanggar apalagi kepada sesama manusia…


Para pendusta itu tidak akan pernah berhenti dari berbuat dan berbicara dusta kecuali ajal menjemputnya. Allah Azza wa Jalla berfiman,

فَاَ عْقَبَهُمْ نِفَا قًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَاۤ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَا نُوْا يَكْذِبُوْنَ

“Maka, Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”

(QS. At-Taubah: 77)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

كَذٰلِكَ سَلَكْنٰهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمُجْرِمِيْنَ ۗ 

“Demikianlah, Kami masukkan (sifat dusta dan ingkar) ke dalam hati orang-orang yang berdosa.”

(QS. Asy-Syu’ara’: 200)


Menjadi benar itu penting, namun merasa benar itu tidak baik. Kearifan akan membuat seorang menjadi benar, tetapi bukan merasa benar

Orang benar, tidak akan berpikiran bahwa ia adalah yang paling benar. Sebaliknya orang yang merasa benar, di dalam pikirannya hanya dirinyalah yang paling  benar

Orang benar bisa menyadari kesalahannya. Sedangkan orang yang merasa benar, merasa tidak perlu untuk mengaku salah


Orang benar setiap saat akan introspeksi diri dan bersikap rendah hati. Tetapi orang yang merasa benar merasa tidak perlu introspeksi,  jarena merasa paling benar, mereka cenderung tinggi hati


Orang benar memiliki kelembutan hati. Ia dapat menerima masukan dan kritikan dari siapa saja, sekalipun itu dari anak kecil Orang yang merasa benar, hatinya keras Ia sulit untuk  menerima nasehat dan masukan apalagi kritikan


Orang benar akan selalu menjaga perkataan dan perilakunya, serta berucap penuh kehati-hatian. Orang yang merasa benar berpikir, berkata, dan berbuat sekehendak hatinya, tanpa pertimbangan atau mempedulikan perasaan orang lain

Pada akhirnya, orang benar akan dihormati, dicintai dan disegani oleh hampir semua orang. Sedangkan orang yang merasa benar sendiri hanya akan disanjung oleh mereka yang berpikiran sempit, dan yang sepemikiran dengannya, atau mereka yang hanya sekedar ingin memanfaatkan dirinya


Marilah kita terus memperbaiki diri untuk bisa menjadi benar, agar tidak selalu merasa benar. Bila kita sudah termasuk tipe orang benar, tetaplah istiqamah dalam kebenaran dan selalu rendah hati…


Tidak ada yang mesti dikhawatirkan bila diri kita selalu berada pada jalan kebenaran, bila diri kita selalu berada pada kepasrahan dan ketundukan di mana Allah Azza wa Jalla selalu akan hadir dengan pertolongan sebagai janji dan jaminan kepada hamba-Nya yang senantiasa membiasakan melakukan amalan-amalan dengan bersabar di atas kebenaran…


Amalan yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah amalan yang teguh dan istiqamah, oleh karena itu pelihara dan jaga selagi kita bisa untuk terus berada dalam kebenaran, keteguhan dan ketaatan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Fushilat: 30-32)


Istiqamah dalam kebebaran, ketaatan dan kebaikan pada hakikatnya untuk dirinya sendiri pahala keutamaannya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang shaleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Jatsiyah: 15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *