SEBESAR-BESAR KHIANAT

Amanah ialah segala nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita. Dari mulai alat badani yang melekat pada diri kita, seperti alat penglihatan, alat pendengaran, alat perasa, tangan, kaki, lisan, dan akal pikiran. Demikian juga nikmat berupa harta benda, jabatan, kekuasaan dan lain sebagainya adalah amanah yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita yang harus dijaga…

Islam telah memerintahkan agar setiap orang menjaga dan menunaikan amanah itu secara maksimal, bersamaan dengan itu Islam juga telah berpesan dengan sangat supaya tidak berkhianat dan jangan menyia-nyiakan amanah sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, padahal kamu mengetahui.”

(QS. Al Anfal: 27)


Sebesar-besar khianat adalah mempercayakan suatu urusan penting kepada yang tidak memiliki kapasitas untuk mengelola urusan tersebut. Seperti menyerahkan urusan umat, rakyat dan negara kepada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa jika bukan ahlinya yang mengelola, tunggulah kehancuran tiba…

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radadhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat”. Dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu!”

(HR. Al Bukhari)


Suatu hari, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan fenomena akhir zaman yang pernah didengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.”

(HR. Hakim)

Hadits ini menunjukkan bahwa saat nilai sudah tumpang tindih dan tak begitu diindahkan: orang bohong dianggap jujur; orang jujur dianggap bohong; pengkhianat dianggap amanah; orang amanah dianggap pengkhianat. Di situlah muncul zaman Ruwaibidhah, yang dijelaskan nabi sebagai orang bodoh (pandir, dungu) tapi mengurusi orang umum…

Secara bahasa, Al-Jauhari berkata bahwa, Ruwaibidhah adalah orang yang bodoh dan hina.” Sementara Ibnu Atsir selain keduanya menambahkan kata khasiis (buruk, rendah dan keji). Secara bahasa masih menurut Ibnu Atsir- kata Ruwaibidhah adalah bentuk tashghir (ungkapan kecil) dari kata Rabidhah yaitu orang lemah (bodoh) yang mengurusi urusan-urusan penting di ranah publik. Tambahan kata “ta marbutha” di akhirnya untuk menambahkan tekanannya.
Dalam hadits-hadits yang semakna selain riwayat Abu Hurairah seperti: Anas bin Malik dan Auf bin Malik- setidaknya ada tujuh ciri yang mensifati Ruwaibidhah
Pertama, orang bodoh yang membicarakan urusan publik.
Kedua, orang rendahan.
Ketiga, orang fuwaisiq (fasik hina) yang berbicara urusan publik.
Keempat, orang fasik berbicara urusan umum.
Kelima, rendah, tidak dihiraukan (tak teranggap).
Keenam, orang bodoh yang berbicara urusan orang banyak.
Ketujuh, orang hina di kalangan masyarakat…

Dari beberapa ciri tersebut, mengandung subtansi yang sama: orang rendahan, bodoh dan hina, tidak mengerti ilmu mengurusi urusan publik (seperti: menjadi pejabat, penguasa dan lain sebagainya) tapi diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membicarakan atau mengurusi masalah orang umum. Ini gambaran jelas bahwa sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya. Sehingga, akan berdampak negatif secara sosial.
Hadits lain yang menyiratkan makna yang sama (penyerahan urusan kepada yang bukan ahlinya) misalnya:

وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

“Bila orang yang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimpin manusia. Itulah salah satu tanda-tandanya.”

(HR. Muslim)


Jika ada orang yang sebenarnya rendah dan tak mengerti ilmunya kemudian dijadikan pemimpin oleh kebanyakan orang maka itu adalah salah satu tanda-tanda kiamat. Ada juga hadits lain yang semakin menguatkan fenomena Ruwaibidhah di akhir zaman,

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat.”

(HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى

“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”

(HR. Bukhari, 6015)

Sungguh benarlah ucapan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam di atas. “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Amanah yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya…


Sudah sepatutnya kita meletakkan segala sesuatu pada tempat-tempatnya…

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

(QS. Al-‘Ankabuut: 43)

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

”Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

(QS. Ar-Ruum: 22)

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

(QS. Faathir: 28)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujaadalah: 11)


Hadits Abu Hurairah di dalam Shahih Bukhari dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (disebutkan): bahwa beliau pernah ditanya: kapan hari kiamat? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

إِذَا وُسِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *