BAHAYA DOSA JARIYAH

Berhati-hatilah terhadap bahaya perbuatan dosa jariyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.”

(HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Berdasarkan hadits ini dapat kita pahami bahwa di samping ada pahala amal jariyah, dalam Islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu..


Betapa menyedihkannya nasib orang seperti ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa demi dosa. Kita bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini…


Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah Azza wa Jalla catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, Islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya. Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. wal’iyadzu billah, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini. Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini…

Kita bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain busana minim, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak mengajak khalayak untuk memakai busana minim, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun. Tak jauh beda dengan mereka yang memasang konten mengumbar aurat dan syahwat di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton dan terdorong melakukan zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang konten di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya. Termasuk juga orang yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lawan jenis yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak orang untuk memandanginya…


Kita bisa perhatikan orang-orang yang dengan sengaja menyebarkan informasi hoax yang sesat dan menyesatkan demi pencitraan, atau menyebarkan pemikiran dan menyerukan masyarakat untuk memusuhi kebenaran dan keadilan, mengancam yang haq, membela kebathilan dan kezaliman, hingga memunculkan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadist di tersebut. Sepanjang masih ada orang-orang sepemahaman yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan, kezaliman dan pengikut pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah. Termasuk juga mereka yang menyerukan kemaksiatan, kezaliman, memotivasi orang lain untuk berbuat maksiat dan zalim, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya…


Allah Azza wa Jalla berfirman,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُون

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan.”

(QS. an-Nahl: 25)

Pada ayat lain Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

(QS. Yasin: 12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *