PERJUANGAN MERAIH HIDAYAH

Seorang Muslim dalam kehidupannya senantiasa membutuhkan hidayah dari Allah Azza wa Jalla untuk menjaga konsistensi keimananannya. Dimungkinkan paginya seorang beriman namun sore harinya ia menjadi kafir. Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir. Karena tak seorangpun beriman kecuali mendapat izin dari Allah Azza wa Jalla,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّه

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah.”

(QS. Yunus: 100)


Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Seorang muslim senantiasa berdoa di dalam shalatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

(QS. Al Fatihah: 6)

Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia. Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkan agar Allah Azza wa Jalla menghendakinya…

الله يهدي من يشاء

“Dan Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

(QS. An Nuur: 46)


“hidayah itu mahal”. Ya, hidayah memang mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya. Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”

(QS. Al An’am: 59)

Dalam masalah hidayah ini, Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian : Pertama, رَاشِدٌ (râsyid), yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Kedua, غَاوِيٌ (ghâwi), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya. Dan ketiga, ضّالٌّ (dhal), yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh. Setiap râsyid, dia mendapat petunjuk, dan setiap orang yang mendapat petunjuk secara sempurna maka ia dikatakan râsyid. Karena hidayah menjadi sempurna apabila seseorang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, tuntun kami dan tunjuki kami serta berikan kami taufik kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kita kepada Allah Azza wa Jalla dan surga-Nya. Jalan tersebut adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Maka, tunjuki kami kepada jalan yang lurus dan tunjuki kami di dalam jalan yang lurus tersebut…


Maksudnya, tunjuki kami ke jalan yang lurus adalah berpegang teguh pada agama Islam. Dan makna tunjuki kami di dalam jalan yang lurus adalah mencakup hidayah kepada semua perincian agama secara ilmu dan amal. Doa ini merupakan doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi hamba. Karenanya, wajib bagi seorang hamba untuk berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan doa ini di setiap rakaatnya…


Ada kalanya manusia mengira dirinya sudah mendapat hidayah sebagai orang baik sementara aslinya adalah orang yang selalu saja melakukan hal sesat dan menyesatkan. Manusia jenis ini adalah manusia yang tertipu dengan dirinya sendiri…

Sesungguhnya, andai dirinya mau jujur membaca dan mendengarkan suara hatinya sendiri, dia tahu akan niat busuknya, niat jeleknya. Namun karakter kesetanan dan kebinatangannya menutupi jalan hidayah ini sehingga dirinya tetap merasa sebagai yang benar…


Agar tak tertipu dengan diri kita sendiri, biasakanlah mendengarkan suara hati nurani sendiri dalam keheningan. Pikirkan dengan jernih dan tulus jujurlah. Rasulullah memerintahkan Wabishah untuk meminta fatwa pada dirinya sendiri, pada hatinya sendiri. Hati yang paling dalam itu sesungguhnya cinta damai, benar dan indah.
Bagaimana kalau perkataan kita dan perbuatan kita membuat orang lain dan sekeliling kita menjadi sedih, kecewa dan rusak? Kita bisa pastikan bahwa di situ ada yang salah. Mungkin saja salah niat, mungkin saja salah cara, mungkin saja salah waktu, mungkin juga salah tempat atau salah orang. Dibutuhkan peerenungan mendalam untuk menjadi bijak…

Seorang tamu yang masih kerabat mengunjungi saudarinya yang baru melahirkan. Dia bertanya kepada saudarinya itu: “Selamat melahirkan ya. Saya ikut senang. Dapat hadiah apa dari suamimu?” Saudarinya menjawab dengan menundukkan muka sambil berkata lirih bahwa tidak diberi hadiah apapun. Tamu itu bertanya lagi: “Masa sih tidak diberi hadiah apapun? Bukankah anak adalah bernilai? Bukankah melahirkan itu sebuah perjuangan?” Saudarinya semakin menunduk malu. Sang tamu berpamitan pulang, tak lama setelah itu.
Sang tamu tak merasa salah dengan kata-katanya. Memang benar bahwa melahirkan anak adalah anugerah, juga benar bahwa melahirkan adalah perjuangan. Tak ada yang salah, bukan? Kisah tak berhenti di sini. Sang suami datang, sang istri dingin dan mempertanyakan kepantasannya mendapatkan hadiah. Mereka bertengkar, kemudian sang suami menceraikannya. Siapakah yang paling bersalah?
Sungguh sang tamu itu termasuk minal mufsidin, pengrusak yang dibenci Allah Azza wa Jalla. Jangan biasa merusak kedamaian hati orang lain dengan cara bersembunyi di balik tampilan benar secara kata. Jangan mengandalkan kepandaian berkilah. Tanyakan pada hati kita, niat sesungguhnya apa dan bagaimana cara yang tepat untuk mengutarakan dan melaksanakannya. Menjadi bijak itu ternyata tidak mudah.


Marilah kita senantiasa memanjatkan doa sebagaimana doa yang sering dilantunkan Rasulullah adalah,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan pelindung segala urusanku. Perbaikilah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Perbaikilah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai istirahat bagiku dari segala keburukan.”

(HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *