PUJIAN DAPAT MEMBINASAKAN

Syeikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harrani -rahimahullah- menuturkan :

العالم يعرف الجاهل لأنه كان جاهلا وتعلم..
ولكن الجاهل لايعرف العالم
لأنه لم يكن عالما.
ولايعرف فضل أهل الفضل الا ذو الفضل

“Orang yang berilmu mengetahui akan orang yang bodoh, sebab dahulunya diapun bodoh, kemudian belajar…

Namun orang yang bodoh tidak mengetahui (kedudukan) orang yang berilmu, sebab dia belum menjadi orang yang berilmu,

Dan seseorang tidak akan mengetahui keutamaan dari orang yang memiliki keutamaan, kecuali orang tersebut juga memiliki keutamaan tersebut.”

(Jawabul I’tiradjaat Al-Mishriyah, hlm. 172)

Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Anbiya’: 35)

Pada hakikatnya pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah Azza wa Jalla, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻣُﻬْﻠِﻜَﺎﺕٌ : ﺷُﺢٌّ ﻣُﻄَﺎﻉٌ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻊٌ ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ‘ujub (takjub pada diri sendiri).”

Sesungguhnya kita lebih membutuhkan doa daripada pujian, karena biasanya pujian berpotensi dapat menipu diri kita…

Sufyan bin Uyainah berkata,

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ

“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”

Karena itu kita dilarang untuk memuji seseorang dengan berlebihan, sekalipun dalam pandangan kita orang tersebut layak untuk kita berikan pujian…

Ada suatu kisah yang dapat kita ambil _ibrah_ (pelajaran) darinya. Suatu hari ketika Syufay al-Ashbahani memasuki kota Madinah, tiba-tiba dia mendapati seseorang yang sedang dikerumuni orang banyak, maka dia pun bertanya,

“Siapakah orang ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah Abu Hurairah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka Syufay pun mendekat hingga dia duduk di hadapan Abu Hurairah, yang saat itu dia sedang menyampaikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para hadirin. Ketika selesai dan hadirin telah meninggalkan tempat, Syufay berkata, “Sebutkanlah untukku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat engkau hafal dan engkau pahami.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.” Saat Abu Hurairah akan menyebutkan hadits itu tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.
Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.”
Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat.
Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat.
Ketika siuman dia mengusap wajahnya dan berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi dalam waktu yang cukup panjang, hingga Syafi’i pun menyandarkan Abu Hurairah ke tubuhnya, sampai beliau siuman.

Ketika sadar beliau berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

إن الله تبارك و تعالى إذا كان يوم القيامة نزل إلى العباد ليقضي بينهم و كل أمة جاثية فأول من يدعو به رجل جمع القرآن ورجل يقتل في سبيل الله ورجل كثير مال فيقول للقارىء: ألم أعلمك ما أنزلت على رسولي ؟ قال: بلى يا رب, قال: فماذا عملت فيما علمت؟, قال: كنت أقوم به أثناء الليل و آناء النهار, فيقول الله له: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, ويقول الله: بل أردت أن يقال: فلان قارىء فقد قيل. ويؤتى بصاحب المال فيقول الله: ألم أوسع عليك حتى لم أدعك تحتاج إلى أحد؟, قال: بلى, قال: فماذا عملت فيما آتيتك؟, قال: كنت أصل الرحم و أتصدق, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, فيقول الله: بل أردت أن يقال فلان جواد فقد قيل ذاك. ويؤتى بالذي قتل في سبيل الله فيقال له: فيم قتلت؟, فيقول: أمرت بالجهاد في سبيلك فقاتلت حتى قتلت, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, و يقول الله عز و جل له: بل أردت أن يقال فلان جريء فقد قيل ذلك, ثم ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم على ركبتي فقال: يا أبا هريرة أولئك الثلاثة أول خلق الله تسعر بهم النار يوم القيامة

“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan turun kepada para hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan saat itu masing-masing dari mereka dalam keadaan berlutut.

Lantas yang pertama kali dipanggil oleh-Nya (tiga orang):

Seorang yang rajin membaca Al Quran,
orang yang berperang di jalan Allah dan
orang yang hartanya banyak.

Maka Allah pun berkata kepada si Qori’, ‘

Bukankah Aku telah mengajarkan padamu apa yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku?’

Si Qori’ menjawab, ‘Benar ya Allah.’

Allah kembali bertanya, ‘Lantas apa yang telah engkau amalkan dengan ilmu yang engkau miliki?’

Si Qori menjawab, ‘Aku (pergunakan ayat-ayat Al Quran) yang kupunyai untuk dibaca dalam shalat di siang maupun malam hari,’

serta merta Allah berkata, ‘Engkau telah berdusta!’
Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lantas Allah berfirman, ‘Akan tetapi (engkau membaca Al Quran) agar supaya engkau disebut-sebut qori’! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Kemudian didatangkanlah seorang yang kaya raya, lantas Allah berfirman padanya,

‘Bukankah telah Kuluaskan (rizki)mu hingga engkau tidak lagi membutuhkan kepada seseorang?

” Dia menyahut, ‘Betul.’ Allah kembali bertanya,

‘Lantas engkau gunakan untuk apa (harta) yang telah Kuberikan padamu?’

Si kaya menjawab, ‘(Harta itu) aku gunakan untuk silaturrahmi dan bersedekah.’

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’
Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau ingin agar dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Lantas didatangkan orang yang berperang di jalan Allah, kemudian dikatakan padanya, ‘

Apa tujuanmu berperang?’

Orang itu menjawab, ‘(Karena) Engkau memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu, maka aku pun berperang hingga aku terbunuh (di medan perang).’

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’
Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetap engkau ingin agar dikatakan engkau adalah si pemberani! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk lututku sambil berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali yang dikobarkan dengannya api neraka di hari kiamat.”

(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya IV:115, no: 2482, Ibnu Hibban juga dalam kitab Shahih-nya II:135, no: 408. Al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/415 berkata, “Isnadnya shahih” dan disepakati oleh adz-Dzahaby dan Al Albani)

Dikisahkan di suatu negeri hiduplah seorang raja yang dia memang sangat ditakuti di negeri ini. Dia menganggap bahwa semua karena wibawa dirinya yang sangat kuat. Padahal sesungguhnya, takutnya banyak orang kepadanya adalah karena ketegaannya memburu dan memenjarakan setiap orang yang berseberangan dengan dirinya. Hormatnya banyak orang kepadanya bukanlah karena ada cinta, kekaguman dan ketundukan melainkan karena ketakutan dan keengganan berurusan dengannya. Sebuah penghormatan palsu. Suatu ketika kucing kesayangan sang raja ini mati, begitu banyak karangan bunga bela sungkawa yang berjejer di depan istananya. Dia semakin merasa bahwa dirinya benar-benar orang besar. Beberapa hari kemudian, saat dia sendiri yang meninggal dunia, ternyata tak banyak orang yang mengirimkan ucapan bela sungkawa. Sedikit sekali dan tak sebanyak karangan bunga kematian kucingnya.
Begitulah nasib orang yang ditakuti dan dihormati bukan karena kemuliaan dirinya, melainkan karena kemuliaan kekuasaannya. Kemuliaan diri itu abadi, sedangkan kemuliaan kekuasaan itu hanyalah pada saat diduduki saja…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *