MENAKAR KADAR IMAN & AMAL

Kata iman dan amal shalih di dalam Al-Qur’an hampir selalu bergandengan. Kedua kata tersebut disebutkan secara berulang-ulang di dalam Kitabullah. Tujuannya tentu agar setiap Muslim yang telah mengikrarkan keimanannya, bahkan di bawah sumpah jabatannya kepada Allah Azza wa Jalla senantiasa melaksanakan amal-amal shalih, yaitu dengan menjalankan syariah-Nya secara kâffah (total)…


Patut disayangkan, saat ini masih banyak kaum Muslim yang mengaku mengimani Allah Azza wa Jalla, tetapi mengabaikan ketaatan pada syariah-Nya. Padahal iman yang hakiki menuntut pengamalan seluruh syariah-Nya. Dalam hal ini Allah Azza wa Jalla tegas menolak keimanan seseorang yang enggan tunduk pada syariah-Nya,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

(QS. An-Nisa’: 65)


Allah Azza wa Jalla juga mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum munafik yang mengklaim beriman, padahal mereka berpaling pada selain hukum-Nya atau kepada thâghût,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Tidakkah kamu memperhatikan kaum yang mengklaim telah mengimani apa saja yang telah diturunkan kepadamu dan pada apa saja yang telah diturunkan kepada kaum sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thâghût, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thâghût itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

(QS. An-Nisa’: 60)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa thâghût adalah segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla yang disembah, diikuti atau ditaati manusia. Thâghût juga bermakna setiap kaum yang berhukum pada selain hukum Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya…


Iman yang hakiki akan membuahkan kesungguhan untuk berIslam secara total (kâffah) sesuai perintah Allah Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”

(QS. Al-Baqarah: 208)


Dengan dorongan iman, seorang Mukmin tak membeda-bedakan hukum Allah Azza wa Jalla yang satu dengan yang lain; antara kewajiban shalat dan kewajiban memberlakukan hukum antara haramnya daging babi dan haramnya riba’, termasuk korupsi, kolusi, nepotisme dan seterusnya. Semua ia terima dengan penuh ketundukan. Keimanannya kepada Allah Azza wa Jalla membuat dirinya meyakini kewajiban pelaksanaan hukum Islam secara kâffah, bukan setengah-setengah…


Hukum menegakkan kebenaran dan keadilan adalah wajib; sama dengan jihad, zakat, qishâsh, perlindungan kepada ahludz dzimmah, dan lain lain. Tak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang tidak menyatakan kewajiban penegakkan kebenaran dan keadilan…

Karena itu sungguh ironi mengklaim diri sebagai pewaris Ahlu Sunnah jika punya sikap bertolak belakang dengan pendapat para imam yang agung, dengan menolak kebenaran dan keadilan. Apalagi sampai menghalangi kaum Muslim untuk menjalankan ketaatan total kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dengan cara menegakkan kebebaran dan keadilan. Ini merupakan dosa besar. Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“Itulah orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”

(QS. Ibrahim: 3)


Atas segala penolakan dan upaya penghadangan terhadap pelaksanaan kebenaran dan keadilan Allah Azza wa Jalla, kaum Muslim hendaknya tidak memperhitungkan sedikitpun kebencian manusia pada agama-Nya dan segala tindakan mereka yang berusaha menghalangi-halangi orang dari jalan-Nya. Seorang Muslim hanya memperhitungkan ridha atau murka Allah Azza wa Jalla semata. Ia akan tetap gigih menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla sekalipun banyak orang membenci perbuatannya. Sebaliknya, ia tak akan mengerjakan amal yang dibenci Allah Azza wa Jalla sekalipun banyak orang memuja-muja perbuatan tersebut. Muslim seperti inilah yang akan mendapatkan limpahan ridha Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, Muslim yang memburu ridha manusia dengan membuang ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla akan ditimpa kemurkaan-Nya,

مَن اِلْتَمَسَ رِضَى الله بِسُخطِ النَاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى النَاسُ عَنْهُ وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاس بِسُخطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Siapa saja yang mencari ridha Allah meski mengundang kemarahan manusia maka Allah meridhai dia dan membuat manusia ridha kepada dirinya. Siapa saja yang mencari ridha manusia tetapi mengundang kemurkaan Allah maka Allah memurkai dia dan membuat manusia murka kepada dirinya.”

(HR. Ibnu Hibban)

Karena itu seruan manusia yang mencoba menghalang-halangi penegakkan amar ma’ruf nahi munkar (perintah berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah seruan yang tidak layak untuk didengar dan ditaati. Seruan tersebut hakikatnya adalah kebatilan. Padahal ketaatan adalah semata-mata dalam perkara yang ma’ruf, bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Sungguh ketaatan itu hanya adalah dalam hal yang ma’ruf.”

(HR. Al-Bukhari)


Sekalipun adanya tekanan, intimidasi, fitnah bahkan persekusi harus dihadapi oleh setiap Muslim dengan penuh kesabaran. Kaum Mukmin memahami bahwa hal ini adalah ujian dari Allah Azza,wa Jalla. Ujian ini juga dialami oleh para para Nabi dan para Rasul-Nya,

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kalian. Akan tetapi, mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.”

(QS. Al-An’am: 34)


Sabar bukan berarti berdiam diri, namun terus menunjukkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berusaha mengubah kemungkaran yang ada. Saad bin Abi Waqqash ra. tegar dalam keimanannya sekalipun ibunya yang dia sayangi mengancam akan berpuasa sampai mati. Pasangan syuhada Sumayyah dan Yasir ra. memilih mengorbankan nyawa mereka ketimbang mengikuti paksaan untuk murtad dari kaum musyrik. Pada saat berdakwah di Makkah, kaum musyrik Quraisy melarang dan membenci siapa saja yang melakukan shalat dan membaca al-Quran di depan umum. Namun demikian, larangan itu tak menghalangi sejumlah sahabat, seperti Abdullah bin Mas’ud ra. dan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. untuk membacakan al-Quran di depan Ka’bah sekalipun setelah itu mereka mengalami persekusi bahkan penyiksaan…

Alhasil, hendaklah kita tetap sabar dan istiqamah di dalam ketaatan secara total kepada Allah Azza wa Jalla. Janganlah berbagai fitnah dan kezaliman yang mendera kita membuat kita bergeser dari ketaatan kepada-Nya. Inilah jalan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjemput keridhaan-Nya sekaligus meraih pertolongan-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) hingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ingatlah, sungguh pertolongan Allah itu amat dekat.”

(QS. Al-Baqarah: 214)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *