KEMBALI KEPADA AL QUR’AN & SUNNAH

Di dalam Al Qur’an kita diperintahkan untuk mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama itu shahih. Maka kita wajib berpegang teguh dengannya meskipun tidak terdapat perintah tersebut secara persis. Karena secara umum Allah Azza wa Jalla telah berfirman di dalam Al Qur’an,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

“Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.”

(QS. An-Nisa: 80)

Makanya orang-orang yang menolak hadits yang shahih dengan mengatakan tidak terdapat di dalam Al Qur’an, ini adalah kedustaan yang justru mendustakan Al Qur’an itu sendiri. Pembahasan lanjutan dari ayat yang kita bahas tadi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri.”

Ketika menyebutkan “taat kepada Rasul”, diulangi. Menunjukkan taat kepada Rasul itu tersendiri, wajib untuk dilakukan selama ada berita dari hadits yang sahih yang sampai kepada kita. Adapun Ulil Amri, tidak diulangi “ketaatan kepadanya”, tapi digandengkan dengan perintah ketaatan sebelumnya. Hal ini menunjukkan ketaatan kepada Ulil Amri harus termasuk di dalam ketaatan kepada Rasul. Yakni tidak boleh menyelisihi perintah Allah Azza waJalla dan Rasul-Nya. Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim di sini bahwa adapun pemimpin di sini, maka tidak wajib kita mentaati salah seorang di antara mereka, kecuali kalau termasuk di dalam ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Jadi, ketaatan kepada Ulil Amri di sini harus sesuai dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus dalam rangka taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ini kaidahnya.
Sudah kita bahas tadi, taat kepada Allah Azza wa Jalla, taat kepada Rasul-Nya, seandainya ada sebuah perintah di dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak disebutkan di dalam Al Qur’an secara dzatnya, maka tetap wajib untuk kita taati. Karena taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Adapun kalau ketaatan kepada Ulil Amri harus benar-benar tercakup di bawah ketaatan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukanlah ketaatan yang berdiri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘Alalaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

“Wajib bagi seorang manusia untuk selalu mendengarkan dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin dalam hal-hal yang disukainya atau dibencinya selama tidak diperintahkan berbuat maksiat kepada Allah, maka jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, jangan dia didengar dan jangan dia ditaati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, ketaatan kepada pemimpin harus terikat dengan ketaatan dalam perkara yang dibenarkan dalam syariat, bukan dalam perkara yang merupakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla. Inilah rahasianya kenapa kalimat perintah di dalam ayat disebutkan,

أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ

Taatlah kepada Allah, (lalu diulang lagi) dan taatlah kepada Rasul. Setelah itu ketika mengatakan Ulil Amri tidak disebutkan lagi “taatlah kepada Ulil Amri”, tapi langsung digandengankan saja tanpa kata perintah “taatlah kepada pemimpin”. Ini menunjukkan ketaatan kepada pemimpin mengikuti ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni tidak boleh dalam maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya..

Maka perhatikan bagaimana di firman Allah Azza wa Jalla berikutnya, konsekuensi makna ini diulang kembali di dalam firman-Nya,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ

“Dan jika kalian berselisih pendapat tentang suatu masalah, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”

(QS. An-Nisa: 59)

Makna Ulil Amri di sini mencakup pemerintah dan para ulama (orang-orang yang berilmu) yang mereka adalah pemimpin manusia. Jika mereka berselisih pendapat, kembalikan kepada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Bukan kembalikan kepada pendapat semata-mata. Inilah konsekuensi orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir…


Dalam ayat ini Allah Azza waJalla berfirman, “maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.” Allah tidak berfirman, “Dan kembalikanlah kepada Rasul-Nya”. Karena kalau kita mengembalikan permasalahan kepada Al Qur’an, berarti kita kembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Al Qur’an diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang menyampaikan Al Qur’an kepada kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alalaihi wa sallam, wahyu yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada beliau. Maka mengembalikan kepada Al Qur’an berarti mengembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sebagaimana mengembalikan kepada Sunnah juga berarti mengembalikan kepada Allah dan RasulNya.
Maka ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla, pada dzatnya merupakan hukum Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hukum itu pada dzatnya juga merupakan hukum Allah Azza wa Jalla. Jadi, tidak boleh kita membedakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya adalah demikian banyak, lebih dari puluhan ayat,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu maka ambillah dan apa yang dilarang oleh Rasul maka tinggalkanlah.”

(QS. Al-Hasyr: 7)

Kemudian ayat yang tadi kita bacakan,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

“Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.”

(QS. An-Nisa: 80)


Ini semua menggambarkan kepada kita tentang keharusan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang itu merupakan inti dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka jika kita dalam sesuatu yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Allah Azza wa Jalla (Al Qur’an), maka berarti kita telah mengembalikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula jika kita mengembalikan kepada Rasul, kepada hadits yang shahih, kepada sunnah beliau, maka berarti kita telah mengembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ini termasuk rahasia kandungan Al Qur’an, hikmah yang sangat tinggi dari makna Al Qur’an yang kita dapatkan dari ayat yang sedang kita bahas ini…

Subhanallah, ini juga menunjukkan kepada kita bahwa ketika ada permasalahan, kita harus kembalikan kepada dalil. Karena ketika di sini diperintahkan taatlah kepada Allah taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada Ulil Amri. Yakni pemimpin dan para ulama. Kita taati mereka karena mereka yang membawa agama. Tapi kalau terjadi perselisihan pendapat, kembalikannya kepada dalil, bukan kembali kepada pendapat. Ada sebagian orang ketika dia mendapati permasalahan dalam agama, dia mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya kemudian dia mengatasnamakan bahwa ada ulama yang berkata demikian, ini ada ustadz yang berpendapat demikian. Kita diperintahkan untuk mengembalikan kepada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Ini konsekuensi iman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir, konsekuensi iman yang benar dalam diri manusia,

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kembalikanlah perselisihan pendapat itu kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Siapa Ulil Amri itu?
Siapakah yang dimaksud dengan “para pemimpin di antara kamu”? Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu bahwa dari penjelasan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu imam besar Ahlus Sunnah…


Dalam menjelaskan makna Ulil Amri ada dua riwayat yang dinukil dari pernyataan Imam Ahmad; Pertama, mereka adalah orang-orang yang berilmu (para ulama) karena mereka memimpin umat dalam ilmu, dalam pengajaran dan bimbingan agama. Kedua, mereka adalah para penguasa, para pemimpin, pemerintah. Karena pemerintah adalah pemimpin manusia dalam urusan yang berhubungan dengan kenegaraan, keamanan, pengamalan dari hal-hal yang berhubungan dengan kemaslahatan hidup manusia, penjagaan atau penegakan hukum di kalangan mereka.
Kata Imam Ibnul Qayyim bahwa dua pendapat atau dua perkataan dari Imam Ahmad ini kedua-duanya disebutkan dari ucapan Sahabat ketika menafsirkan ayat ini. Jadi sebagian Sahabat ada yang mengartikan Al-Umara’, ada juga yang mengartikan Al-Ulama.
Kata Ibnul Qayyim bahwa pendapat yang shahih dalam pengertian Ulil Amri yaitu mencakup gua golongan manusia ini. Karena orang-orang yang berilmu (para ulama) dan para penguasa/para pemimpin/pemerintah, mereka adalah pemerintah yang memegang urusan manusia yang Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya dengan hal itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kita ketahui di Madinah adalah sekaligus sebagai pemimpin dan sebagai pendidik atau pembimbing manusia dalam urusan agama mereka sewaktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berhijrah ke Madinah. Allah Azza wa Jalla jadikan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pembimbing manusia dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dalam urusan agama mereka…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *