TETAP DI JALUR YANG BENAR

Allah Azza wa Jalla memberikan peringatan kepada kita sebagaimana firman-Nya,

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗ وَتِلْكَ الْاَ يَّا مُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّا سِ ۚ وَلِيَـعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”

(QS. Ali ‘Imran: 140)


Ada orang di sekitar kita yang menunggu pagi, hanya untuk dicuci ginjalnya… dan ada yang tengah dirawat di ruang ICCU untuk bernafas dengan bantuan ventilator…

Ada orang di sekitar kita yang menunggu pagi, hanya untuk mengambil dan menebus obatnya…

Ada juga orang di sekitar kita pagi hari menggigil karena semalaman hujan lebat dan tidak punya tempat berteduh…

Bahkan ada juga orang di sekitar kita yang pagi harinya tidak mendapatkan apapun untuk dimakan…

Ada juga orang di sekitar kita yang pagi harinya dilanda musibah kebakaran, gempa bumi, tanah longsor, mendapat serangan jantung, Covid -19, hingga datangnya kematian…

MasyaAllah…
Jangan biarkan hari-hari diisi dengan ratapan keluh kesah, sumpah serapah, hujatan dan cacian…

Begitu seringnya kita setiap bangun pagi dari lelap tidur dalam kenyamanan, sehingga menganggap segala nikmat-Nya seolah merupakan hal biasa dan baru terasa sangat berharga di saat Allah Azza wa Jalla telah mengambilnya dari kita…


Allah Azza wa Jalla mempergilirkan musibah dan nikmat, kesempitan dan kelapangan, kesedihan dan kegembiraan, kegagalan dan kesuksesan, kemiskinan dan kekayaan, kekalahan dan kemenangan dalam bioritme kehidupan kita…

Semua ini diberlakukan untuk mendinamisasi kehidupan, agar kita bisa belajar dari pengalaman hidup dan merasakan beragamnya keadaan. Sehingga kita menjadi pribadi yang matang, tangguh dan tegar di atas nilai-nilai kebenaran, bagaimanapun keadaannya…


Sesuai iradah (kehendak) Allah Azza wa Jalla, saat gagal kita bisa mengetahui bagaimana rasa kegagalan dan bagaimana menyikapi kegagalan sebagaimana diajarkan Islam. Demikian pula saat mendapatkan kesuksesan. “Dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman”…

Saat mendapat kekalahan, kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dan menunjukkan akhlak Muslim saat mendapat kekalahan. Saat mendapat kemenangan, kita bisa menunjukkan akhlak Muslim sebagai pemenang, di samping mendapat banyak pelajaran…

Gagal dan sukses, kalah dan menang sudah menjadi iradah-Nya dalam kehidupan. Tapi yang paling penting tetap berada di jalur yang benar dan tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam, baik saat kalah atau menang, saat gagal atau sukses…

Dengan demikian, semua keadaan yang kita alami menjadi kebaikan bagi kita. Inilah keunggulan yang membedakan kita sebagai seorang Muslim dari orang lain. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kekaguman dan apresiasinya kepada sikap seperti ini, dalam sebuah sabdanya,

” عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ ؛ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ ؛ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ، فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ، حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ “.

“Saya kagum kepada orang Mukmin: Jika mendapat kebaikan, ia memuji Tuhannya dan bersyukur. Jika mendapat musibah, ia memuji Tuhannya dan bersabar. Orang Mukmin diberi pahala dalam semua urusannya, hingga diberi pahala pada suapan (makanan) yang diberikannya ke mulut istrinya”.

(Musnad Ahmad, 1492)


Pastikanlah bahwa kita mendapat pahala dan pelajaran dari semua keadaan yang dihadirkan Allah Azza wa Jalla dalam kehidupan kita. Jika tidak, berarti kita merugi besar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *